Info Kapal

Ridwan Garcia blog

Konsentrasi saat anda bertugas

RULE 5 “Look-out”
Every vessel shall at all times maintain a
proper look-out by sight and hearing as well as by
all available means appropriate in the prevailing
circumstances and conditions so as to make a full
appraisal of the situation and of the risk of
collision.

Sep 6, 2009 Posted by | NAVIGASI | | Comments Off on Konsentrasi saat anda bertugas

Isteriku Tetap Yang Paling Cantik

Isteriku Tetap Yang Paling Cantik
Pukul 4.05, alert di hpku membangunkan. Ia ikut bangun. Padahal, aku tahu baru pukul 23.30, ia bisa tidur setelah berjibaku dengan kerjanya, kerja rumah tangga, urusan dua anakku, dan mengurusi aku sebagai suami. Belum lagi, pukul 01.15 terbangun untuk sebuah interupsi.Ups, rupanya ia lupa menyetrika baju kantorku. Aku mandi, shalat lail dan shalat subuh. ia selesai pula menyelesaikan itu. Plus, satu stel pakaian kerjaku telah siap.
Aku siap berangkat. Ah, ada yang tertinggal rupanya. AKu lupa memandangi wajahnya pagi ini. “Nda, kamu cantik sekali hari ini,” kataku memuji.
Ia tersenyum. “Bang tebak sudah berapa lama kita menikah?” Aku tergagap sebentar. Melongo. Lho, koq nanya itu. hatiku membatin. Aku berhenti sebentar dan menghitung sudah berapa lama kami bersama. Karena, perasaanku baru kemarin aku datang ke rumahnya bersama ust. Bambang untuk meminangnya.”Lho, baru kemarin aku datang untuk meminta kamu jadi istriku dan aku nyatakan ‘aku terima nikahnya Herlinda Novita Rahayu binti Didi Sugardhi’ dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai.” Kataku cuek sembari mengaduk kopi hangat rasa cinta dan perhatian darinya.Ia tertawa. Wuih, manis sekali. Mungkin, bila kopi yang aku sruput tak perlu gula. Cukuplah pandangi wajahnya. “Kita sudah delapan tahun Bang.” Katanya memberikan tas kerjaku.
“Aku berangkat yah, assalamualaikum,” kataku bergeming dari kalimat terakhir yang ia ajukan.
Aku buru-buru. “Hati-hati yah dijalan.” Sejatinya, aku ingin ngobrol terus. sayang, KRL tak bisa menunggu dan pukul 7.00 aku harus sudah stand by di ruang studio sebuah stasiun radio di Jakarta.
Aku di jalan bersama sejumlah perasaan. Ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar kata Dewa, separuh nafasku hilang saat kau tidak bersamaku. kembali wajahnya menguntit seperti hantu. Hm, cantiknya istriku. Sayang, waktu tidak berpihak kepadaku untuk lebih lama menikmatinya.
Sekilas, menyelinap dedaunan kehidupan delapan tahun lalu. Ketika tarbiyah menyentuh dan menanamkan ke hati sebuah tekad untuk menyempurnakan Dien. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Bahwa rezeki akan datang walau tak selembar pun kerja kugeluti saat itu. Bahwa tak masalah menerapkan prinsip 3K (Kuliah, Kerja, Kawin).Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana yang saat itu sedang kukejar. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.
Dan, ternyata benar. Kuliahnya dan kuliahku bernasib serupa. Berantakan. Waktuku habis tersita untuk mengais lembar demi lembar rezeki yang halal. Sementara ia harus merelakan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri untuk si Abang, anakku.
Kehidupan harus terus berjalan. Kutarik segepok udara untuk mengisi paru-paruku. Kurasakan syukur mendalam. Walau tanpa kerja dan orang tua mapan, ‘kapal’ku terus berlabuh. Bahkan, kini sudah mengarung lebih stabil dibanding dua dan tiga tahun pertama.
Ternyata, memang benar Allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku.
Namun, aku tahu wajah cantik istri ku mungkin akan memudar dengan segala kesibukan, mempersiapkan makanan untuk si Abang dan Ade yang mau berangkat sekolah, mempersiapkan tugas-tugas untuk pekerjaanya, belum lagi mengurusi tetek bengek rumah tangga. Kelelahan seolah menggeser kecantikan dan kesegarannya. Untunglah, saat aku pulang, ia bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan.Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu. Namun, doa dan ridhaku selalu bersamamu.
Sayangku,kumohon dekat di sinitemani jasadku yang belum matiAku melayang

Sep 6, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Isteriku Tetap Yang Paling Cantik

istri di sayang jangan ibu di buang

Isteri Disayang Jangan Ibu Dibuang
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. ”Aku berbai’at kepada engkau untuk hijrah dan jihad, yang karenanya aku hendak mencari pahala dari Allah.”
Beliau bertanya; “Adakah salah seorang di antara kedua orangtuamu yang masih hidup?”
Dia menjawab; “Ya, bahkan kedua-duanya masih hidup!”
Rasulullah saw bersabda; “Benarkah engkau hendak mencari pahala dari Allah?”
Dia menjawab; “Ya!”
Beliau bersabda; “Kalau begitu, pulanglah kepada kedua orangtuamu dan hendaklah engkau mempergauli keduanya dengan baik.” (diriwayatkan Muslim).
Riwayat singkat di atas memaparkan kisah seorang lelaki yang dengan antusias menyatakan keinginannya kepada Rasulullah saw untuk berjihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Tapi di luar dugaan Rasul mulia menawarkan opsi jihad lain yang lebih utama pada lelaki tersebut, yakni mempergauli dan menjaga kedua orangtuanya dengan baik.
Ini tentunya jangan kita asumsikan soal pilihan yang lebih utama di antara 2 kebaikan, berjihad di jalan Allah atau menjaga kedua orangtua. Seakan kisah itu mengesankan jihad di jalan Allah lebih kecil bobotnya dibanding dengan menjaga orangtua. Namun sesungguhnya Rasul mulia mengajarkan pada kita, betapa keduanya memiliki nilai jihad yang sama bobotnya. Betapa menjaga orangtua sama urgennya dengan jihad fi sabilillah. Hanya saja, untuk si lelaki tersebut, Rasul mulia memerintahkannya agar ia lebih mendahulukan menjaga orangtuanya ketimbang berjihad (berperang) di jalan Allah. Ini masalah skala prioritas, yang Rasulullah tetapkan pada lelaki tersebut dalam situasi kondisi tertentu.
Lepas dari pembahasan itu, inti pesan Rasulullah saw dalam riwayat di atas adalah, jangan sekali-kali kita menomorduakan, apalagi menomortigakan kepentingan orangtua dari masalah lainnya. Ini artinya jangan sampai kecintaan kita pada sesuatu, membuat kita lalai dalam berbakti pada ayah-ibu kita. Termasuk dalam hal ini tentunya, janganlah kecintaan kita pada isteri kita misalnya, membuat kita tidak peduli dengan keadaan orangtua. Kita begitu care (peduli) dalam memenuhi keinginan-keinginan isteri, sementara ibu kita tak kita perhatikan keadaannya. Tidak peduli dengan perasaan ibu kita yang merasa sakit hati lantaran kita (putranya) lebih menumpahkan perhatian dan rasa cinta kita hanya untuk isteri kita. Na’udzubillah min dzalik.
Mencintai isteri bukan sesuatu yang terlarang. Hanya saja rasa cinta kita pada isteri, tidak harus memupuskan perhatian dan rasa cinta kita pada orang yang telah melahirkan, merawat, dan menjaga kita hingga kita dewasa. Betapapun kepentingan ibu, tetap harus kita tempatkan dalam urutan pertama tatkala kita dihadapkan pada dua pilihan: Antara mendahulukan kepentingan isteri, dan kepentingan ibu. Kalaulah Rasul mulia memerintahkan kita untuk mendahulukan menjaga orangtua dibanding perang di jalan Allah, apatah lagi ketimbang keinginan isteri.
Alangkah naif tentunya, bila lantaran paras isteri kita yang cantik misalnya, menimbulkan cinta berlebihan dan cenderung rasa takut kita pada isteri. Sehingga kita –sadar atau tidak– akhirnya rela disetir (didominasi) oleh isteri. Bisa kita bayangkan bila ini terjadi pada diri kita, pasti akan rawan timbulnya konflik antara isteri dan ibu kita. Bila kondisi demikian berlangsung, biasanya orang cenderung akan lebih berpihak pada isteri ketimbang berpihak pada ibunya.
Orangtua, khususnya ibu (kaum wanita), begitu sangat dimuliakan oleh Islam. Bukan hanya ia diabadikan sebagai salah satu nama surat di dalam Al Qur’an (An-Nissa), tapi di banyak haditsnya Rasululllah saw selalu memerintahkan kita untuk memuliakan mereka. Sebuah hadits menyebutkan, “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.”
Dalam riwayat masyhur lainnya disebutkan pertanyaan seorang sahabat kepada Nabi saw tentang orang yang paling layak dipergauli secara baik. Maka beliau saw menjawab tiga kali berturut-turut, pertama “ibu”, kedua “ibu”, ketiga “ibu”, dan baru keempat “ayah”. Ini menunjukkan tingkatan mendahulukan isteri berada di urutan ke-5, setelah mendahulukan kepentingan ibu (3 x) dan ayah (1 x).
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata; “Ada seorang lelaki menemui Rasulullah saw seraya berkata; ”Aku ingin sekali ikut berjihad, namun aku tidak mampu.”
Beliau bertanya; “Adakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?”
Dia menjawab; “Ibuku!”
Beliau saw bersabda; “Menghadaplah kepada Allah dengan cara berbuat baik kepada ibumu. Jika engkau melakukannya, engkau sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah, serta berjihad.” (diriwayatkan Abu Ya’la dan Ath-Thabrany).
Betapa penting dan utamanya kedudukan ibu sebagai kunci untuk menggapai ridho Allah ‘Azza wa Jalla, tentu harus diketahui oleh pasangan suami-istri (pasutri). Suami yang baik seyogyanya mengajarkan dan mendidik isterinya untuk memahami perihal ini. Agar sikap pasutri mendahulukan kepentingan orangtua masing-masing, tidak menimbulkan salah pengertian dari pasangannya. Selain tentunya, visi dan sikap pasutri yang sejalan dalam memperlakukan orangtua masing-masing, menjadi amat penting dan krusial dalam merajut kehidupan keluarga yang harmonis (sakinah).
Sungguh tak ada gunanya rumah mewah, isteri cantik, dan harta melimpah, bila hubungan kita dengan ibu kandung kita hambar. Apalagi bila ibu kita tidak ridho terhadap kehidupan rumah tangga kita, lantaran kita terlalu didominasi oleh isteri misalnya. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada kehidupan rumah tangga kita. Sebab ridho ibu adalah ridho Allah SWT. Sebaliknya murkanya ibu, adalah murkanya Allah ‘Azza wa Jalla.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda;
”Keridhoan Robb Ta’ala berada dalam keridhoan kedua orangtua. Kemurkaan Allah Tabaraka wa Ta’ala ada dalam kemurkaan kedua orangtua. (diriwayatkan Al-Bazzar) .
Ayo, benahi rumah tangga kita, perbaikilah silaturahim kita dengan orangtua kita, agar rumah tangga kita berkah dan diridhoi Allah SWT.

Sep 6, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on istri di sayang jangan ibu di buang

Qonaahnya Sang Istri

Qonaahnya Sang Istri

 Melihat Faris tidur, Dwi bergegas memberesi semua baju-baju kotor yang tertumpuk di pojok kamar mandi. Karena sedikit tergesa baju daster yang dikenakannya terkait sebuah paku yang menyembul di antara pintu kamar mandi. Syukur tidak robek, hanya jahitan pinggirnya yang terlepas.

Kalau melihat dasternya yang mulai kelihatan buram warnanya, dengan jahitan tangan disana-sini, terkadang ada rasa keluh dihatinya. Tadi lagi-lagi sedikit tepinya robek,dan dijahit. Dua daster penggantinya semuanya masih kotor, barusan satu kena muntah Faris, bayinya. Dan yang satu lagi memang baru dipakai kemaren sore. Keduanya nasibnya sama, memprihatinkan.

Dia meringis kecut, memang usia ketiganya sama dengan lama dia hijrah ke Surabaya, saat awal akan kuliah dulu.Mama membawakan 3 daster manis-manis, waktu itu.

Sekarang, dia masih tetap pakai, karena belum ada adik baru bagi baju harian ini.

Gaji suaminya yang dosen baru gak cukup untuk dia sisihkan buat beli baju.Selalu saja,kumpulan uang yang dia sisihkan untuk niat beli baju gak kesampaian.3 Bulan kemaren Faris kehabisan susu,sementara gaji suaminya sebagiannya digunakan untuk bayar kontrakkan rumah mungilnya sekarang,.Dan bulan ini mesthinya uang yang dia kumpul cukup untuk memenuhi keinginannya itu, tapi kemaren sore terpaksa dipakai buat obat Faris yang sudah 3 hari ini gak enak badan, panas dan muntah terus.

Sambil terus mengis iair di bak-bak cucian,pikirannya melayang ke masa gadisnya dulu.Berasal dari keluarga berada ,tentu saja semua yang dia inginkan terpenuhi.Baju seperti yang dia pakai sekarang ini mungkin mama sudah pakai buat lap dapur,atau buat kain pel.Tapi sekarang kehidupan awal rumah tangganya yang memang mulai dari nol,mengharuskan dia benar-benar pandai mengatur uang.gaji suaminya.Tapi memang inilah konsekwensi dari pilihannya.

Dia ingat benar pesan ustadzahnya,jadi istri memang harus pandai pandai mengatur uang belanja.Pandai memprioritaskan mana yang dibutuhkan terlebih dulu. Butuh,bukan ingin.Kebutuhan memiliki prioritas yang bertingkat-tungkat.jauh setelah itu barulah keinginan.Itupun juga harus dipilah lagi keinginan yang bagaimana. Selalu qonaah terhadap pemberian suami., berapapun itu besarnya.Anggap bahwa apa yang ada di genggamanmu itu cukup,dan jangan pernah berpikir tidak cukup.Terima dengan ikhlas, dan jangan banyak mengeluh.Selama kita senantiasa mampu mensyukuri “pembagian” dari Allah itu, niscaya Allah akan senantiasa menambah rezekiNya pada kita.dan pesan itu melekat benar dalam hatinya.

Ketika datangnya pinangan Iman kepadanya,memang mama dan papah terlihat ragu. Bagaimana tidak, Iman yang dikenalnya sebagai kakak kelasnya yang aktifis masjid kampus memang baru saja bekerja sebagai dosen, belum ada setahun,dan baru saja selesai pra jabatan. Dia sendiri masih menyelesaikan tugas akhirnya sehingga jelas sudah didepan kedua orang tuanya kehidupan bagaimana yang akan dilalui olehnya bila bersuamikan Iman. Tapi hatinya tetap teguh, rezeki itu datangnya dari Allah. Pernikahan itu akan banyak membukakan pintu rezeki pada kita, bahkan dari tempat yang kita tidak terpikir sebelumnya. Itu juga pesan sang ustadzah ketika dia mengutarakan keberatan orang tuanya.

Dan memang benar, dengan tekad bulat menjalankan sunnah Rasullullah, akhirnya kedua orang tuanya melepas kepergiannya. Menyerahkannya pada Iman,laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.Soal rezeki memang turun naik.Tetapi sampai saat ini alhamdullillah dapurnya selalu mengepul. Meski dosen baru, ajakan mengerjakan proyek sering datang, sehingga mereka bisa kumpulkan uang itu untuk membayar kontrakkan rumah dan terkadang SPPnya. Membayar biaya persalinan buah hati pertama mereka dan sedikit simpanan,yang terkadang terpaksa terpakai juga kalau ada kebutuhan mendesak yang lain.

Belum sempat memang dia membeli sepotong tambahan bajupun sejak pernikahannya yang kali ini sudah menginjak bulan yang ke 16.Tak apa, toh membeli baju sampai saat ini masih termasuk katagori keinginan bagi dia,bukan kebutuhan.Dia pikir dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit sisa belanja mungkin suatu hari juga akan bisa juga mendapatkan sepotong baju. Baju-baju yang dia punya dari zaman gadisnya beberapa masih cukup pantas untuk dipakai.Hanya beberapa yang nampak sudah kelihatan cukup tua. Dasternyalah yang karena paling sering dipakai yang sering membuatnya tergoda mendapat yang baru lagi. Apalagi kalau pas datang ke rumah beberapa teman yang sudah mapan, dan melihat mereka mengenakan pakaian yang cukup lumayan, kadang godaan mulai menggoyahkan.

Lamunannya melayang mendengar ketukkan keras pintu depan. Khawatir tidur Faris terbangun dengan berjingkat-jingkat dia intip sosok di depan pintu yang di kenal betul.Mbak Irah,penjual rongsokkan yang sebulan sekali datang kerumahnya,siap membeli barang bekas apa saja.Kadang kertas-kertas,kadang botol-botol bekas kecap, minyak, atau sirup, atau botol-botol obat. Lumayan,meski tidak banyak, paling tidak bisa buat tambahan belanja. Rasanya sudah lebih dari dua bulan mbak Irah tidak mampir ke rumahnya.

“Masuk mbak,” Dwi mempersilahkan Mbak Irah yang perutnya kelihatan makin membuncit.Anak yang ketiga katanya,subhanallah.Dengan kondisi perut 8 bulanan begitu masih juga dia mengangkat barang-barang rongsokkan berjalan kaki dari Keputih sampai KenjeranMeski terkadang kelihatan dia bersama dengan suaminya yang membawa sepeda pancal dan gerobak kecilnya.

“Sebentar mbak yah,kok lama gak kelihatan..”kata Dwi sambil berjalan masuk mengambil botol dan kertas yang dia kumpulkan. Lumayan banyak karena lebih dari dua bulan.

“Iya mbak, saya libur di rumah dulu sementar.”kata mbak Irah, matanya nampak sendu.

“Sakit ya mbak,” tanya Dwi sambil berjongkok,menata botol dan kertas-kertasnya.

Mereka hanya duduk pada selembar karpet sederhana.Belum ada Sofa di rumahnya. “Nggak mbak, suami saya barusan meninggal, “jawab mbak Irah datar. Dwi sedikit terkejut.

“Inna lillahi wa inna lillahi roojiun,”spontan ucapan Dwi.

“Dua hari setelah kami mampir kesini dua bulanan yang lalu, suami saya tertabrak truk.Bawaanya terlalu berat waktu itu, jadi oleng pas ada bemo melintas cepat di sampingnya. Sayangnya jatuhnya ke samping,di jalan. Bersamaan dengan itu ada truk yang melintas dan menabraknya. Cukup parah, sehingga hanya sehari di rumah sakit Gusti Allah memanggilnya,” cerita mbak Irah mengalir tanpa diminta.

Yang mendapat cerita hanya tertegun, matanya berkaca-kaca. “Masya Allah,semoga Allah melapangkan kubur suami mbak Irah. Mbak Irah yang sabar ya menerima ujian Allah ini,. Insha Allah semua ada hikmahnya.”

Dwi menatap iba wanita di depannya.Ya Allah berat benar cobaan wanita ini,sebulan lagi mau melahirkan anak ketiganya, ditinggal mati suaminya pula.Masha Allah.

“Iya Mbak, insha Allah.saya ikhlas kok,begitupun anak-anak.Mereka tahu kalau ayahnya dipanggil Gusti Allah.Karena Gusti Allah sayang sama ayah mereka,’katanya sambil tersenyum.Senyuman yang nampak tulus dan ikhlas.

Wanita itu diam.Sebentar kemudian wajahnya menatap Dwi.Sedikit ragu dia berucap: “Mbak, kalau Mbak memiliki pakaian yang sudah tak terpakai, bolehkah buat saya.Atau mungkin dari teman Mbak yang lain.Semua pakaian saya sudah seperti ini.” Wanita malang itu menunjukkan bajunya yang sudah banyak tembelan disana sini.

“Itu kalau ada loh Mbak,’katanya lagi.

Mata Dwi menggenang,lamunannya barusan sekilas teringat lagi.Wanita itu lebih butuh dari aku,hatinya berkata.

“Insha Allah Mbak,saya coba carikan nanti. Seminggu lagi datang ya. Saya coba tanyakan teman-teman juga,” janji Dwi.

“Ini delapan ratus perak Mbak,,’kata Irah menyerahkan uang hitungan botol-botol dan kertas dari Dwi.

“Ambil saja Mbak, kali ini buat anak-anak sampeyan saja.”

Dwi menolak uang yang disodorkan Mbak Irah.

“Tidak mbak, ini kan uang penjualan barang-barang ini.Saya tak mau.Ini hak Mbak Dwi,”tolak Irah pula dan meletakkan uang receh delapan ratus itu ke box buku di depannya.

“Iya deh , alhamdullillah terima kasih,”jawab Dwi akhirnya, dan memungut uang itu.

”Saya terima,tapi tolong simpankan uang ini buat anak-anak sampeyan ya.Mungkin butuh buat beli susu mereka.” Dwi menggenggamkan recehan uang itu ke tangan Irah. Mata wanita malang itu berkaca-kaca. “Terima kasih banyak Mbak.Semoga Gusti Allah membalas kebaikkan mbak,”kata Irah sambil berdiri dan memohon diri. “Amin.”

Ditutupnya pintu kembali,dan menjawab salam Irah yang berlalu menjauh.

Terdengar suara tangis Faris yang terbangun.

Diangkatnya bayinya dan berbisik di telinga si kecil,

“Kita masih lebih beruntung nak daripada keluarga mbak Irah.Ummi harus lebih banyak qonaah dan belajar dari mereka-mereka itu,” Ujarnya lirih sambil mendekap buah hatinya.

Sep 6, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Qonaahnya Sang Istri

Agar istri menghormati suami

Apakah Anda sedang berusaha memperbaiki atau meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan sang Istri? Ikutilah saran-saran berikut ini dan coba buktikan apa yang bisa dihasilkannya terhadap hubungan Anda berdua.1. Jika Anda bersedia mendengarkan dan menerima nasehat/masukannyaSeringkali masukan sang istri sangat berharga, baik karena cara berpikirnya yang lain dibandingkan cara berpikir pria, sekaligus juga karena ia adalah seseorang yang berdiri di luar masalah Anda secara pribadi, namun yang terlibat dengan diri
Anda dengan begitu dekatnya.Ketika seorang suami bersedia menghargai pendapat istri, kekaguman dan respek istri justru akan semakin besar.2. Jika Anda bersedia menerima koreksi dari istriSebagian besar pria enggan untuk menerima koreksi disebabkan khawatir, kedudukan atau image mereka sebagai pemimpin akan luntur. Namun sesungguhnya, kerendahan hati untuk menerima koreksi dari orang yang paling dekat ini biasanya menunjukkan bahwa Anda akan lebih mudah terbuka terhadap koreksi dengan orang lain. Lagipula dalam hubungan yang sehat, ketika seorang suami bersedia mengakui kelemahan, kesalahan maupun kekurangannya, istri akan tahu bagaimana ia berperan untuk menjadi penolong yang baik bagi pasangannya ini, dan dengan demikian kasih diantara pasangan akan mengalir dengan lebih tulus.3. Jika Anda meminta pendapatnya mengenai seperti apakah seorang suami yang ia harapkanHal ini sebetulnya lebih kepada berusaha membuat istri Anda bahagia karena Anda menaruh perhatian dengan apa yang akan membuatnya senang, bahagia dan puas, dalam hal hubungannya dengan Anda. Tentu saja sulit bagi Anda untuk memenuhi semua idealnya, tetapi dengan menanyakan ia tahu Anda ingin berusaha membahagiakannya, dan ini akan membuatnya sangat menghargai Anda.4. Jika Anda mau mencari tahu makna sesungguhnya dibalik pendapatnyaTerkadang istri Anda akan mengatakan bahwa Anda “selalu” begini atau begitu, jika Anda tidak benar-benar merasa “selalu” begini atau begitu, jangan terburu-buru mengkonfrontasikannya dengan mengatakan: “Masak sih aku “selalu” begitu? kamu berlebihan, aku tidak pernah merasa begitu!” Suami yang bijak akan melihat ke balik perkataannya. Kata “selalu” mungkin dimaksudkannya untuk menekankan suatu pokok persoalan. Namun jika Anda berkebaratan, mengkomunikasikannya dengan istri untuk mendapatkan konfirmasi yang sesungguhnya dari pilihan katanya itu, jauh lebih bijaksana. Mintalah ia memikirkannya lagi dalam satu-dua hari, apakah ia benar-benar memaksudkannya demikian. Jangan seperti kebanyakan pria yang menolak mendengarkan koreksi atau harapan istri hanya karena istri mempergunakan pilihan kata yang tidak sesuai dengan Anda.5. Jika Anda bersedia meresapkan perkataanyaTahanlah diri Anda untuk tidak segera memberi tanggapan sampai Anda sepenuhnya bisa menerima apa yang disampaikannya, baik yang tepat maupun yang tidak tepat. Jika Anda harus menyampaikan ketidaksetujuan Anda akan pendapatnya, tunggulah beberapa waktu dulu, sehingga ia tahu Anda sudah benar-benar memikirkan masukannya. Dan jika Anda menyampaikan “pembelaan” Anda terhadap pendapatnya, bisa jadi itu juga akan membuatnya semakin memahami Anda dengan benar, dan pada waktu-waktu selanjutnya, sikap Anda tidak disalah mengerti lagi.6. Jika Anda bertanggung jawab atas kelalaian AndaSikap ini merupakan teladan yang terpuji, baik bagi anak-anak maupun pasangan Anda. Hal ini memberikan rasa aman, sebab mereka dapat mengandalkan Anda. Gagasan yang bagus juga jika Anda menetapkan aturan bersama mengenai sanksi apa yang patut Anda terima jika Anda berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya.7. Jika Anda bersedia meminta maafPermintaan maaf yang tulus memulihkan hubungan yang tidak nyaman. Mungkin Anda pernah bersikap tidak menghargai pendapat atau masukannya di waktu lalu, maka dia enggan untuk memberikannya ketika Anda memintanya. Dengan meminta maaf, komunikasi bisa dimulai kembali. Mungkin Anda pernah berlaku egois atau menyepelekannya, istri biasanya sensitif dengan hal ini. Meminta maaf perlu sekali untuk memulihkan segalanya.8. Berterima kasihlah atas nasehatnyaUngkapan terima kasih ibarat aspal untuk menghaluskan jalan. Dengan melapisi komunikasi Anda dengan memberikan ungkapan terima kasih yang tulus atas masukan istri, ia akan menjadi lebih lembut dalam berkomunikasi dengan Anda, sebab ia tidak perlu mengomel kepada seseorang yang berterima kasih padanya. (Hanya, jangan sampai ungkapan terima kasih ini sekedar olok-olokan, supaya ia menghentikan pendapatnya!!)

Sep 6, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | 1 Comment