Info Kapal

Ridwan Garcia blog

Bila rasa bosan melandah rumah tangga

Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus Anda lalui untuk kemudian Anda menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari.

Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka setinggi apa pun prestasi, kebaikan atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya seistimewa apapun pasangan hidup Anda, pasti punya kekurangan. Akibatnya kebosanan-kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga.
Rumah tangga yang disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola ke-qowamannya dalam rumah tangga sehingga berimbas pada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami-istri berjalan sendiri-sendiri mengikuti idealisme masing-masing. Rasulullah SAW mewanti-wanti agar jika muncul rasa bosan atau jenuh, pelampiasan yang dipilih hendaknya tidak keluar dari kebenaran sebagaimana sabda beliau ini :
“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur (bosan). Barang siapa yang ketika futur tetap berpegang kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuj dan barangsiapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat” (Al-Bazaar)

Penyebab Munculnya Rasa Bosan
Rasa bosan dalam kehidupan rumah tangga berkaitan dengan faktor internal dan eksternal. Secara internal, rasa bosan seorang suami atau istri berkaitan dengan apresiasi dirinya terhadap kondisi rumah tangganya. Mungkin seorang suami melihat keadaan rumah yang tidak rapi setiap pulang kerja. Atau istri mendapati suami pulang kerja dengan setumpuk permasalahan kantor yang kemudian menjadi pekerjaan rumah. Tidak ada waktu untuk bercengkrama atau sekedar ngobrol sehingga rumah tangga rasanya seperti angin lalu, tanpa ruh. Atau suami mengingnkan istri siap jika dia memerlukan teman diskusi pekerjaan kantor. Di sisi lain suami tidak peduli pada pekerjaan rumah tangga istri yang tidak henti-hentinya. Artinya, di satu sisi suami atau istri mengharapkan pasangannya memahami namun di pihak lain tidak ada itikad yang memudahkan harapan itu bisa terealisasi.
Secara eksternal, sebab-sebab munculnya rasa bosan berasal dari hal-hal di luar diri. Mungkin memang sudah saatnya Anda mengubah posisi tempat tidur atau mengganti gorden kamar Anda. Mungkin saatnya juga Anda mengganti warna cat rumah dengan warna yang lebih segar. Anda juga mungkin sudah saatnya mencoba menu makanan baru atau mengganti penampilan di depan suami Anda.

Ada tiga hal yang diindikasikan menjadi penyebab munculnya rasa bosan untuk Anda kenali:

1. Anda melakukan kesalahan berulang-ulang. Bisa jadi istri memasak terlalu asin dan itu terjadi berulang kali untuk masakan kesukaan suami. Istri kembali memakai baju warna gelap yang tidak disukai suami. Atau suami selalu menyimpan baju-baju kotor di belakang pintu sehingga istri harus sering razia baju kotor. Dengan demikian Anda berdua sudah terperosok dua kali pada lubang yang sama. Akibatnya Anda berdua merasa bosan dengan keadaan yang terus berulang, sementara Anda berdua tidak menghendaki keadaan seperti itu terjadi.

2. Beban Anda memang berat dan tidak pernah henti. Mungkin istri aktivis kegiatan sosial atau bahkan bekerja sehingga ketika sampai di rumah ingin suasana yang sedikit santai untuk mengendorkan urat saraf, sementara suami datang dengan segudang permasalah kantor dan tuntutan pelayanan dari istri. Atau mungkin kondisi ekonomi rumah tangga kurang mencukupi sehingga suami dan istri harus sama-sama bekerja keras. Kendati begitu ternyata gaji berdua tidak cukup untuk membayar rekening-rekeining tagihan. Fisik lelah dan fikiran jenuh, akhirnya tidak ada waktu lagi untuk sekedar bermanis-manis dengan pasangan. Yang ada adalah ketegangan-ketegangan yang lama kelamaan menimbulkan kebosanan-kebosanan dalam menghadapi permasalahan hidup.

3. Idealisme Anda terlalu tinggi. Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi pada pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun ternyata suami Anda malah down. Anda mengharapkan istri Anda bisa berbisnis sepeerti istri-istri yang lain yang bisa menambah income bulanan dengan berbisnis busana muslim. Kenyatannya istri tidak berbakat dagang sehingga tidak balik modal. Akhirnya Anda patah arang, lalu malah tidak semangat lagi mengejar harapan itu. Akhirnya Anda pun bosan mengejar sesuatu yang memang tidak bisa ANda paksakan kepada pasangan Anda.

Kebosanan yang Melahirkan Kekuatan Baru
Tidak sedikit orang yang menjadikan kebosanan sebagai antiklimaks yang mengawali sikap atau perilaku buruk. Mereka berdalih mencari kompensasi rasa bosannya itu dengan mengerjakan hal-hal negatif dengan dalih untuk mencari suasan baru. Padahal jika disikapi dengan baik, kebosanan akan memunculkan kreativitas yang melahirkan kekuatan baru.

Berikut Tips-tips yang bisa Anda Simak :
a. Perbarui niat. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua menekan tombol pause untuk merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga sebagai ibadah. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga, Keikhlasan adalah sumber kekuatan jiwa dan fisik sehingga Anda akan kuat menjalani kondisi apapun dalam hidup.
b. Susunlah perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Akibatnya tenaga, pikiran, waktu dan dana tidak terpakai untuk hal-hal penting.
c. Pahami keutamaan-keutamaan amal. Allah akan memberikan ganjaran untuk pekerjaan yang dilakukan dengan dasar ikhlas dan benar. Lelahnya suami mencari nafkah dihitung sebagai fi sabiilillah. Peluh, kelelahan dan kesulitan dalam mencari nafkah akan memperoleh pahala besar. Pekerjaan istri mengurus rumah tangga dengan benar dan ikhlas akan mengantarkannya ke surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beramal shaleh.
d. Ajaklah pasangan Anda melakukan ibadah sunnah berdzikir, beribadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ketika kita diterpa kegelisahan dan rasa bosan adalah di antara kebiasaan yang dilakukan salafuushaleh. Allah akan menyertai orang-orang yang menjalankan amalan-amalan sunnah setelah menjalankan amalan-amalan wajib.
e. Bercerminlah pada orang lain. Anda berdua bisa bertanya kepada orang-orang tua atau yang lebih berpengalaman tentang kiat-kiat mereka mengatasi kelelahan atau kebosanan dalam menjalani cobaan-cobaan hidup. Uraian mereka akan memacu semangat Anda dalam mengatasi kebosanan.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Bila rasa bosan melandah rumah tangga

Rindu Ayah

Seraut wajah penuh gurat. Membuatku selalu teringat larik Ebiet G Ade,

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meskipun nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

What should I say about him?
Sedari kecil, aku tak terlalu dekat dengannya. Lumrah mungkin, karena seorang anak memang biasanya lebih dekat dengan ibunya. Sosok wanita yang senantiasa hadir di rumah, membimbing anak-anaknya.

Aku tak terlalu dekat dengannya. Sosok itu selalu pergi pagi pulang sore. Setiap beliau tiba, selalu kucari, adakah ia membawa bingkisan bagiku? Dan ibuku senantiasa menyuruhku menyiapkan makan baginya. Sebuah permintaan yang selalu kupenuhi sembari enggan menggelayuti jasad. Sebuah sikap yang selalu kusesali hingga saat ini.
Sosok itupun jarang berbicara. Selalu kulihat ia bekerja dalam diam. Ah, satu sifat yang lewat kuteladani. Ya, ayah adalah sosok yang serba bisa menurutku. Dan jelas dambaan wanita masa kini. Karena beliau tidak pernah segan melakukan pekerjaan wanita, tanpa melalaikan amanahnya sebagai ayah. Bahkan kadang kupikir, di beberapa sisi beliau lebih jago dari ibuku. Beliau bisa menjahit dengan rapi dan sangat teliti. Membuatkan ciput untuk kakak perempuanku, sebagai orang pertama yang memakai kerudung di keluargaku. Memasak dengan sangat bersih dan apik. Membuat sendiri beberapa perkakas dapur dari kayu. Membersihkan halaman dan menggunting rumput. Pernah suatu kali, seorang sales mengira beliau adalah tukang kebun! Jadilah rumahku selamat dari serbuan sales.

Benar, ayah adalah pekerja yang sangat teliti. Kadang aku dan juga kakak-kakakku sering gemas … “Ayo dong Yah, cepetan dikit! Atau kita aja deh yang ngerjain”. Tapi proses yang ‘lambat’ itulah yang mewujudkan hasil mengesankan.

Mengecat ayunan taman bersama. Pergi ke pasar dengan pakaian lusuh. Beli sepeda, lalu kita kayuh bergantian. Menemaniku ke toko buku. Membelikanku gula-gula harum manis yang besar, karena saat itu aku malu memegangnya. Memboncengku di sepeda ‘unta’. Menghadirkan bola basket saat aku memang sedang kepingin-kepinginnya. Mewariskan kepadaku beberapa buku sastra masih dengan ejaan lama. Berkolaborasi dengan ibuku, menjahitkan seprei berenda untuk Idul Fitri.

Satu lagi dari ayahku adalah, beliau tidak pernah mengeluh. Sungguh! Sosok itu memang jarang tersenyum. Beberapa temanku mengaku takut melihat ayahku. Wah, mereka belum tau saja bila isengnya kumat, ayahku bisa meniru sosok ibu via telpon, dan sudah beberapa teman yang tertipu!

Perpaduan sinergis jarang tersenyum dengan tiada keluhan sedikit pun dari lisannya. Bahkan saat beliau sakit dan harus dirawat di rumah sakit -pertama dan hanya sekali dalam seumur hidupnya-, hingga sosok tegar itu menemui Izrail di sana. Akibat sakit yang menyerang hatinya. Akibat akumulasi zat-zat toksik ketika dulu beliau bekerja di pabrik belasan tahun lamanya. Sedikitpun tak pernah kudengar keluhan keluar dari lisannya. Padahal sering beliau tidak melalui malam dengan mata terpejam, karena sakit memerih di hatinya. Bahkan beliau menolak keinginanku untuk menemaninya di rumah sakit hanya karena khawatir mengganggu sekolahku.

Satu ketika seorang sahabat bercerita kepada saya, kakunya ia membangun komunikasi dengan ayahnya. Aku hanya bisa terdiam miris. Menyembunyikan basah di mataku. Duhai sahabat, segeralah bangun komunikasi dengannya. Sebelum maut mewujudkan jarak antaranya.

Mengenang ayahku, selalu kuingat tanggal itu, 31 Agustus 1995. Paska kepulangannya dari Baitullah. Ternyata beliau pun harus berpulang pada Dzat yang selalu kita nantikan pertemuan dengan-Nya. Kamis mendung mendesak awan. Tubuhnya telah terbalut kain putih. Menyisakan seraut wajah bergurat. Tatkala wajahnya dipalingkan menghadap kanan. Dan gundukan tanah merah basah menindihnya, menghalangi kami sedikit demi sedikit … menjarakkan kami kian jauh …

Rabbi,
Lapangkanlah kuburnya.
Terangilah ia dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Datangkanlah sosok tampan di hadapannya, sebagai wujud amal kebaikan beliau selama ini.
Kutitipkan ia pada-Mu Ya Allah …

Rabbi,
Rahmatilah hamba sebagai anak shaleh, agar mampu mendoakan kedua orang tua hamba.
Sampaikan kepadanya, larik yang belum sempat kuverbalkan di hadapannya, bahwa Aku mencintainya.

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangatmu tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Rindu Ayah. Sungguh.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | 2 Comments

Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Perempuan itu berjalan mengitari kebun kecilnya, kehamilannya menua membuat langkahnya tertatih. Maha benar Allah saat manusia di perintahkan menghormati ibunya. “Ibumu mengandungmu sembilan bulan dengan kepayahan yang bertambah-tambah”.
Sejenak ia berhenti dan mengehembuskan nafasnya, ditatanya lagi pot-pot kecil. Dia tersenyum sambil berkacak pinggang. Hhhfff…Benih akan bertumbuh menjadi pohon, berbunga dan berbuah. Memberi manfaat.

“Nak, kau dengar kan? Gemericik air yang kusiramkan di tanah berisi benih tadi?”
“..itulah kau sayang. Aku membentukmu sejak disini” . Dielusnya perut buncitnya, kemudian dibiarkannya semua letih berseteru membentuk pegal yang menyemut di kakinya. Ayunan didepan ‘padepokan kecil belakang rumah’ menjadi tempatnya bersantai. Allah memberikan pahala padamu wahai perempuan, surga! Dan kau mudah meraihnya dengan kesabaran.Sebagai istri terlebih sebagai ibu.

“Nak, kau ingin aku memperdengarkanmu apa? Sederet musik klasik yang katanya mencerdaskanmu? Sebentar, Nak… ada yang akan membentukmu lebih cerdas dan kau takkan bosan”
Diambilnya mushaf al-qur’an kecil dari dasternya lalu lantunannya membuat sang janin 8,5 bulan itu bergerak-gerak menyambut fitrahnya saat ruh ditiupkan padanya sejak empat bulan yang lalu. Perjanjian dengan Allah : “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu Mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan-mu? Mereka menjawab, “betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”…..(QS.Al-A’raaf:172)
“Kau tahu nak, aku telah persiapkan pot-pot kecil berisi tanah dan benih serta sepetak kebun disana. Aku menyebutnya laboratorium mini untukmu”
“Kelak kau akan belajar dari tanah, bagaimana dia menumbuhkan dan menerima. Kau akan belajar dari kesabarannya. Menerima apapun namun menumbuhkan apa yang baik dengan izin Allah”
“Kau akan belajar , nak. Dan aku akan membimbingmu. Bukan aku sendiri, Nak. Tapi ayahmu juga. Dia memberimu keteguhan pula” perempuan itu tersenyum. Pendar merah muda di kedua pipinya menyiratkan satu rasa bernama: bahagia.

Ah, mengapa banyak perempuan enggan merasakan apa yang kurasakan sampai hari ini? Berdiskusi kecil dengan calon khalifah Allah di bumi? Satu dari sekian banyak generasi baru yang Allah ciptakan? Nak, aku mencintaimu.Sungguh.Karena Penciptamu menyuruhku begitu.
Matahari berpendar kemerahan di ufuk barat. Senja menampakkan merahnya. Siang ikhlas tergantikan perannya. Setelah kesibukan manusia diambang batas waktu. ‘Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal ‘(QS. Ali-Imran:190)
Perempuan itu memenuhi perannya yang lain. Berbakti pada satu makhluk yang dipasangkan untuknya oleh Sang Khalik dalam satu fase kehidupannya di bumi. Laki-laki itu membimbingnya takzim. Penghormatan yang layak diberikan pada seorang makhluk yang diciptakan oleh Rabb-nya untuk menjadi perhiasan terbaik. Keteguhannya menjadikan semai cinta makin menjadi. Cinta karena Allah begitu mereka sering menyebutnya. Berbalut romatisme perjuangan. Keduanya khusyuk dalam dialog-dialog dengan Sang Raja Manusia. Rabb… jadikanlah aku dan dzuriyahku mendirikan Sholat…

Sejoli manusia itu larut dalam perenungan-perenungan tentang diri dan semesta. Serambi belakang seumpama sepetak taman surga dunia, menumbuhkan cinta menyemaikan harap yang bermuara pada satu : gerbang surga hakiki. Perempuan itu memainkan manik-manik tasbih, Sang lelaki melantunkan lagi nada-nada syahdu mengiringi firman-firman ilahi. Perempuan itu tersenyum memandang langit.
“Nak, dengar, kali ini ayahmu melantunkan nada kasih untukmu”
“Nak, di bumi ibumu ini, waktu bernama malam telah menyapa. Mungkin kau gelap disana, sayang. Tapi kegelapan itu menempatkamu pada fitrah yang agung” nafas perempuan itu naik turun teratur. Efek psikologis dari sebuah keadaan bernama: bahagia. Sang calon bayi menyambutnya,menandak-nandak seolah mengatakan ,”Aku dengar, Bunda! Aku dengar!” laki-laki itu tersenyum ,senyum teduh sang calon ayah.
“Nak, kelak kau akan melihat langit yang luas, bintang-bintang dan rembulan dimalam hari dan matahari di siangnya.” Bisik perempuan itu lagi, masih memainkan tasbihnya.
“Kau akan belajar sayang, dari semuanya. Sebab, Tuhan menyuruh kita begitu.”
“kau akan belajar bagaimana matahari yang selalu ikhlas memancarkan sinarnya. Istiqomah menjalankan tugasnya, bahkan saat malam, bulan meminjam sinarnya untuk menerangi langit”

“… Kau kuharap juga menjadi bintang, sayang. Yang memiliki cahayanya sendiri meski ia nampak kecil di mata manusia. Namun dia bintang, bukan bulan yang hanya meminjam cahaya matahari.Sesuatu yang memiliki cahayanya sendiri akan tetap ada dan ‘hidup’ meski tak selalu nampak besar”
“…..Namun kau tak boleh cukup menjadi bintang yang sendiri. Sebab, kau akan terjebak keangkuhan dan tak cukup memberi arti”
“Nah…. Lihat nak! Itu rasi bintang. Kelak bunda akan tunjukkan padamu. Banyak macam namanya. Gugusan bintang itu memberi pedoman pada makhluk di bumi. Pada nelayan, pada petani, pada pelaut. Manusia tidak bisa sendirian mengubah dunia, sayang. Dia harus menjadi bintang-bintang yang membentuk rasi. Manusia harus bergandengan tangan dengan orang lain. Agar cahayanya, kelebihan dan kekurangannya berpadu saling mengisi sehingga makhluk dibumi akan mengambil manfaat dan menjadikan mereka pemandu. Cahaya itulah hidayah dari Allah, sayang. Yang kau bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya sejak disini”perempuan itu mengelus perutnya. Kali ini dia tak lagi hanya berbisik, namun ia menuliskan semua gumamnya.Pena dan kertas adalah teman sejarah. Sang lelaki tersenyum. Aku makin mencintaimu.

Bunda aku mencintaimu, sungguh! sebab di rahimmu aku tumbuh menjadi calon bintang yang akan membentuk rasi bersama bintang-bintang lain sebayaku. Janin itu menandak-nandak lalu tenang.
Bunda…. Bilakah aku melihat wajahmu? Kubayangkan kau seteguh bunga mawar yang kita siram pagi tadi. Maukah kau ceritakan padaku tentang bunga mawar bunda? Pasti kau akan bercerita Bunda, sebagai satu mata ajar di sekolah peradaban kita
Satu bulan sepuluh hari kemudian
Selamat datang putri, tangismu menandai bahwa sekolah peradaban untukmu telah resmi dibuka. Perempuan itu menangis.Tangis bahagia. Tuhannya memberinya kesempatan untuk menjadi guru di salah satu ruang sekolah peradaban:di rumahnya. Keajaiban itu berupa : perpindahan satu fase kehidupan dari alam ruh ke alam rahim kemudian ke dunia. Oh, Rabbi…. Semoga aku sanggup membimbingnya.
Laki-laki itu terpana. Wahai, aku tak pernah bisa membayangkan sakit yang kau rasakan, pejuang Kehidupan! Bukankah ini bukti bahwa perempuan lebih perkasa dari laki-laki dengan kesabarannya? Bukankah ini bukan sebuah kelemahan namun kelemahlembutan yang menumbuhkan ketegaran? Rabbi… pantas jika surga ada dibawah telapak kaki seorang ibu. Aku menghormatimu lebih dari sebelumnya, Ibu baru!
Enam tahun kemudian
Bersyukurlah karena Allah masih memelihara sekolah peradaban bagi manusia: alam semesta. Dan rumah kita sebagai salah satu ruang kelasnya. Tangan-tangan mungil itu memainkan sekop kecil. Tertawa-tawa kecil mengeluarkan gumam-gumam khas bocah. Perempuan disampingnya tersenyum .Biarkan saja dia berlumur tanah sebab dari itu dia tercipta. Biarkan saja tangan-tangan kecil itu meraba, merasakan setiap tekstur tanah dan semua alat peraga alami yang tampak didepan matanya.
Bukankah pergesekan kulit nya yang lembut dengan tanah dan semesta akan memberinya pelajaran baru? Biar saja. Jika ingin kehidupan ramah padanya, maka jangan ciptakan permusuhan dengan alam semesta meskipun hanya sepercik rasa takut. Sebab jiwa murni itu sangat peka. Kotoran di gamisku bisa dibersihkan, namun bekas kemarahanmu dihatinya sulit dihilangkan. Begitu kira-kira kanjeng Rasul Muhammad mengajarkan kita bagaimana bersikap lembut walau’hanya’ pada seorang bayi.*

Indera diciptakan untuk merasa, melihat, membau, mendengar,mengecap. Alam semesta adalah sekolah kita. Biarkan dia mengerti bahwa tubuhnya adalah pelajaran tak terperi. Suatu hari dia akan merasa dirinya adalah bentukan terbaik.
Mulailah percakapan dua generasi memulai pelajaran hari ini: kehidupan.
“Mengapa Bunda mengubur biji itu dengan tanah?” gadis kecil bertanya. Hmmm… kosakatanya yang kaya hasil dari kecerewetan perempuan disampingnya.
“ha…ha.. ini me- na-nam, Sayang, bukan mengubur”
“Me-na-nam ? Untuk apa?”
“Agar dia tumbuh”
“Tapi biji itu tertutup tanah, Bunda”
“Iya, nak… tapi dia hidup..” Gadis enam tahun! Kuperkenalkan kau pada penciptamu. Bertanyalah Sayang sebab telah kubiasakan kau sejak janin.
“Hidup? Dengan apa?”
“dengan air yang kita siramkan tadi, dengan pupuk,dengan udara”
“ Kau tau sayang?dahulu kamu pun ditanam begini” perempuan itu membentuk mimik selucu mungkin.
“ha..ha…ha….” gadis kecil itu tergelak.
“Aku, Bunda? He..he… dimana?”
“Hmmm… disini” perempuan itu menunjuk perutnya
Gadis itu melongo heran. Mungkin batinnya sedang menerka bagaimana mungkin dia yang sebesar ini. ‘di-ta-nam’ di perut ibunya???
“Bunda-aaa! Nggak mungkin!Nggak cukup!”
“Kau dahulu sebesar benih ini nak, sayang” dijumputnya biji bunga matahari.
“Kau di tanam Allah di perut Bunda”
“Allah? Yang setiap hari kita berdo’a pada-Nya” perempuan itu mengangguk.Oh… ananda. Benarlah kau lupa bahwa kau pernah bersaksi bahwa Dia Tuhanmu. Kau harus tetap ingat, nak dengan perjanjian Agung itu. Aku miris dengan sebayamu yang mungkin tak pernah lagi dikenalkan pada Allah-nya saat dia lahir ke dunia
tiap-tiap anak lahir dalam keadaan suci (fitrahnya). Orang tuanya yang membentuknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi
“hiii… pasti gelap ,ya, Bunda?”
“Iya… tapi kau tetap hidup, kan sayang? Menjadi anak Bunda yang pandai” perempuan itu memandangnya penuh cinta
“i..ya…. kok bisa, ya Bunda?” gadis itu mengikut ibunya, mengaduk-aduk tanah, menyemai benih-benih bunga. Tangan kecilnya bergerak semampu dia bisa.
“Karena Allah mencintaimu, sayang. Dia memberimu makanan melalui bunda, dia menitipkan mu pada Bunda dan Ayah, untuk merawatmu”

“ya! Ya! Seperti kita memberi pupuk dan air pada benih ini”
“Anak pintar!”
“Benih ini akan tumbuh sepertiku, kan Bunda?”
“Iya, sayang !menjadi bunga yang cantik. Kau akan senang melihatnya kelak seperti juga Bunda senang melihatmu tumbuh”
“mmm….. “ sang gadis kecil mencoba mengerti.
“kau akan senang melihat benih itu tumbuh perlahan-lahan setiap hari. Karena kau merawatnya dengan baik. Allah menitipkannya pada kita”
“Tapi Allah tidak menyiraminya,kan bunda?!” Oh, gadisku aku harus menjawab apa lagi?
“Hmm…Memang. Tapi Allah yang memberi kehidupan untuk benih itu, untukmu, untuk Bunda untuk semua yang ada di alam”
“Bunda…. Akan merawatku juga? Seperti kita merawat bunga ini, iya kan Bunda?” Perempuan itu mengangguk, dibasuhnya tangannya, dibimbingnya gadis kecil itu membersihkan dirinya. Cukup untuk hari ini , Sayang. Pelajaran kita tentang kehidupan. Kelak kau akan semakin tahu banyak hal. Ini hanya permulaan.
Perempuan itu…. semoga aku! Setahun, dua tahun, tiga tahun atau beberapa tahun lagi jika Allah menghendakiku dan memandangku pantas menjadi salah satu pendidik di sekolah peradaban-Nya: Alam semesta ; disalah satu ruang kelasnya;rumah tanggaku! Dimana setiap sudutnya adalah serpihan-serpihan ilmu dan hamparan pengetahuan untuk mencintai-Nya. Dimana akan kukenalkan generasi-generasi dari rahimku tentang mencintai Rabb-nya, dimana disekolah peradaban itu….lulusannya tidak sekedar mendapat selembar kertas bertuliskan ;lulus! Sebab Alam semesta menjanjikan proses belajar yang tak henti. Selamat datang di sekolah peradaban kita: Alam semesta, langit dan bumi yang hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.Wallahu a’lam bish-shawwab

*) seorang bayi ‘pipis’ di gendongan Rasulullah Muhammad SAW kemudian ibunya segera ‘merebutnya ‘ karena rasa hormatnya pada Rasulullah. Kemudian rasulullah berkata yang kurang lebih seperti di atas.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Makna Sebutir Perhatian

Makna Sebutir Perhatian

Tumbuhnya rasa cinta relatif mudah. Yang sulit adalah merawat agar cinta dan kasih sayang kita terus membara. Itulah yang terjadi dalam perjalanan rumah tangga. Biduk kapal yang diawali dengan cinta terkadang harus kandas akibat cinta dan kasih sayang antara suami istri menguap. Entah kemana.
Sepotong pengalaman diceritakan oleh sang pelaut , sebut saja begitu :

Malam sudah sangat larut. Sayup-sayup desing kendaraan masih tetap terdengar. Namun tetap saja sepi memeluk sekujur rumah itu.sang pelaut beranjak dari pembaringan. Ia memutuskan untuk membasuh wajahnya dan tahajud. Pria yang sehari-hari berlayar berbulan bulan di atas kapal yg besar ini berpikir mudah-mudahan qiyamulalilnya malam ini bisa membuat dirinya lebih tenang.

Ternyata benar. Basuhan air wudlu dan bertemunya kening dengan sajadah membikin hati dan perasaanya lebih tenang. “Alhamdulillah, setelah tahajud ada ketenangan. Bak segayung air menyirami tanah yang tandus,” ceritanya kepada sahabat. Padahal, jangka masa tiga setengah jam sebelumnya, hati dan pikirannya sarat gelisah dan gundah gulana. Matanya pun kering mengusir kantuk.

Betapa tidak, malam itu ia bertengkar keras dengan istrinya. Sang istri protes dengan tingkah suaminya yang, dianggapnya, sudah tidak memperhatikannya lagi. Sebagai seorang pelaut dari sebuah perusahaan baru, sang suami terbilang lama pulangnya hingga tahun jika berlayar. Berangkat hari thn ini tinggalkan rumah pulang tahun akan datang. Dan, kalaupun pulang, energinya sudah habis terkuras. Sebentar saja pelaut dapat cuti waktu yg baik terbuang menurut sang istri tak ada gairah seperti masa berpacaran dulu, istrinya meresa seperti sebatang kayu hanya pajangan semata.saat sang pelaut Tidur. “Malam itu, si istri menyiramkan segelas air ke wajahnya. Praktis, amarahnya muntah kepada si istri. Di marahi dan bentak si istri, eh, dia malah bicara keras. Selanjutnya, bisa ditebak. Mereka bertengkar hebat,” paparnya penuh rasa sesal.

“Ketegangan demi ketegangan dalam sebuah rumah tangga, sebenarnya, hal yang lazim,” komentar Ust Yusuf Mansur ‘ustad yg sedang kodang saat ini yg selalu memberikan kuliah subuh dan siraman rohani di telivisi. ketua Pembina yayasan pesantren darul quran di tanggerang cipondo“Yang terpenting adalah bagaimana kedua pasangan baik suami maupun istri menyikapi ini secara positif dan rasional. Jangan emosional,” tambahnya.

Selain itu hendaknya ada satu pihak yang mengalah ketika pertengkaran terjadi. “Cobalah sang suami bersabar sedikit menanggapi istri yang sedang marah-marah. Atau, sebaliknya. Anggap saja sedang main sinetron dan jangan diambil hati,” saran ustad
Hal ini dibenarkan si pelaut. Malam kejadian itu, mungkin karena saking lelahnya, ia emosional dan meladeni istrinya. “sang pelaut mengaku salah, malam itu saya langsung bentak dia tanpa bertanya dulu. Bisa saja, perilakunya itu hanya reaksi dari tindakan saya sendiri,” imbuhsi pelaut.

Pun begitu, pak ustad tidak menyarankan untuk membiarkan sang istri atau sang suami marah-marah begitu saja. Bukan berarti dicuekin. Apalagi, asik saja menonton TV. Itu malah membuat sang pasangan sakit hati. “Jangan banyak bicara, lakukan saja. Cobalah dekap erat istri atau suami anda. Buatlah ia tenang dan nyaman berada dipelukan anda. Baru setelah tenang dikomunikasikan dan cari jalan keluar. Jangan pernah bosan membuat kesepakatan baru yang penting keduanya senang sama senang.” Kerjasama dalam Keluarga
Dalam pandangan Herlini Amran MA, pemerhati masalah-masalah wanita, sesudah pernikahan berlangsung, kehidupan berumah tangga pun harus dijalani dengan sebaik-baiknya meskipun tantangan dan godaan menjalani kehidupan rumah tangga sangat banyak.

Di sebuah kesempatan Diskusi Panel bertajuk, “Membangun Keluarga Islami” , Herlini mengajukan lima syarat agar yang kita cita-citakan bersama seperti memperkokoh Rasa Cinta dan Kasih Sayang, Saling Hormat Menghormati, Saling Menutupi Kekurangan, Kerjasama dalam Keluarga dan memfungsikan keluarga lebih berkehutanan.
Cinta, menurut Herlini merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan rumah tangga, bila rasa cinta suami istri hilang, maka kehancuran rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu suasana cinta mencintai harus saling ditumbuhsuburkan atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal kehidupan rumahtangga, tapi juga pada masa-masa selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan menemui kematian.

Rasulullah SAW sebagai seorang suami berhasil membagi dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan isteri yang lainnya.
Dalam konteks merawat dan menyuburkan kembali cinta suami istri inilah perlu variasi dan teknik khusus. Coba sesekali buat kejutan. Bangun lebih awal, lalu buatkan teh manis di campur segenggam cinta dan kasih sayang. Bangunkan sang istri untuk shalat subuh dan berikan Teh manis bikinan sang kekasih. Dijamin, ia akan bangun dengan girang bukan alang kepalang.
Atau, pulang tidak seperti biasanya. Berikan sang istri kejutan dengan kehadiran anda lebih awal. Carilah kerja dengan kontrak yg tak terlalu lama, sudah banyak peusahan pelayaran yg menerapkan system internasional jika pun terpaksa lakukan komunikasi yg rutin agar tetap terjaga hubungan yg mesra. Jadi pada perinsipnya komunikasi adalah jembatan yg mengeratkan hubungan keluarga dan saat waktunya tiba cuti anda Sembari pulang jangan lupa beli coklat atau makanan kesukaan sang istri. Tiak mesti terlalu mahal yang penting tulus. Perhatian kecil yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu menumbuhkan rasa cinta.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | 1 Comment