Info Kapal

Ridwan Garcia blog

Antara pelaut dan MLC 2006

Posted by . Capt. Ridwan Garcia M.Mar

76c87419-3e4e-4163-a7f3-ffc31b82f7e4Seorang pelaut yg baik dia tidak  akan perna mau berhenti belajar, apalagi bagi mereka yg menjalankan tugasnya di Foreign going vessel. untuk itu semua informasi harus terus di update di manapun mereka berada. IMO telah menyetarakan level pendidikan di seluruh dunia tidak ada pengecualian buat siapa pun, semua dosen dan pengajar di dunia maritim wajib meliki standart ajar sesuai IMO TOT 6.09 TOT 6.10 dan TOE 3.12

Dengan adanya guide line yg sudah di tetapkan IMO sescara otomatis semua ilmu navigasi pelayaran kapal mempunyai nilai dan bahan ajar yg sama. dgn adanya standarisasi ke ilmuan di dunia maritime pelaut indonesia tak perlu lagi takut bersaing dgn negara lain. dan di tahap pengebangan diri, itu kembali ke diri para pelaut tersebut di karenakan perubahan dunia khususnya teknologi yg berkembang sangat cepat sekali dan sebagai navigator kita harus terus mengasa kemapuan kita agar tetap dan terus belajar.

sebagai contoh banyak pelaut kita yg masi belum memahami fungsi dari MLC 2006. kalau kita flasback kejadian beberapa waktu yg lalu di mana saya perna membaca berita ada sebuah kapal yang menolak berlayar disebabkan seorang Nahkoda dari kapal tersebut mencoba mempertahankan hak dari anak buah kapalnya, dan akibat dari penuntutan hak tersebut sang Nakhoda kapal justru di tangkap oleh pihak ke polisian dengan tuduhan “menyabotase kapal perusahaan dan mengakibatkan kerugian”.

sangat di sayangkan penguasa pelabuhan dalam hal ini PSC (port state control) dan Flag state membiarkan kejadian tersebut. dan sang Nakhoda di tahan oleh pihak kepolisian. untungnya ada union (kesatuan pelaut dalam hal ini kalau saya boleh sebut nama PPI) yg membantu untuk membebaskan sang Nakhoda tersebut.

Dari kejadian di atas. bisa di simpulkan bahwa Ship owner , operator ,Master, PSC, Flag sate , Union dan Crew kapal di indonesia masi banyak yg belum memahami apa itu MLC 2006.

ILO dan IMO  sudah merancang ini semua, karena mereka tahu benar dan sadar  tentang kehidupan pelaut di atas kapal oleh dari itu  pada tahun 2006 di Genewa, Swiss.  MLC 2006 convention di selenggarakan yang bertujuan untuk  memastikan bahwa hak-hak para pelaut di seluruh dunia di penuhi. Dan pada tgl  20 Agustus 2013, standar untuk MLC 2006 mulai diwajibkan untuk diterapkan ke seluru dunia.

Indonesia di bawah presiden Jokowi dodo meratifikasi MLC 2006 pada tgl 6 Oktober 2016. walaupun agak terlambat di karena tekanan dari para pengusaha pelayaran di Indonesia yg takut akan ini. sebabkan menurut mereka bahwa MLC 2006 bagi pengusaha akan sangat merugikan dan akan menguntungkan para pelaut. anggapan seperti itu sebenarnya  salah. Tapi justru ini akan menguntungkan kedua bela pihak baik pengusaha kapal maupun si pelaut. jika kita melihat realita di lapangan dimana  dominasi keselamatan dan kesejateraan hidup para pelaut yg berkerja di dalam negeri dan di luar negeri akan sangat jauh berbeda di ibaratkan antara bumi dan langit. di karena peruhasaan asing sangat paham dan mematuhi aturan dunia maritime international.

MLC 2006 di buat sebagai balancing atau penyeimbang untuk semua ship owner di seluruh dunia dan bagi mereka yg tak meratifikasi negara tersebut akan terasingkan atau tidak masuk dalam daftar white list di bawah International maritime organisation (IMO)

pemerintah indonesia sadar akan hal itu. jika tidak di ratifikasi MLC 2006 semua pelaut indonesia akan di tolak. dan bisa terjadi pemulangan besar besaran karena kita tak akan di akui dunia Maritim.

Kita sebagai pelaut beruntung dan pada akhirnya indonesia mau meratifikasi untuk kepentingan pelaut indonesia. ada empat pillar sebagai landasan dari Maritime Law yangg harus kita tahu:

  1. Marpol Convention 1973
  2. Solas Convention 1974
  3. STCW  Convention 1978 dan amandement
  4. MCL Convention 2006

kenapa MLC 2006 sangat penting untuk pelaut? karena hak hak pelaut di lindungi di konvensi ini. dimana hak hak  pelaut harus di penuhi oleh Ship owner dan operator kapal  untuk pelaut. karena ILO menjamin semua anggotanya yg telah meratifikasi harus melaksanakan sesuai aturan dan prosedure dari ILO

Bagaimana ILO  dan IMO bisa memastikan MLC 2006 bisa berjalan? adanya kontrol dari pelaut itu sendiri dan di berikan tugas untuk Flag state PSC inspector untuk melakukan pemeriksaan ke pada semua kapal. jika di dapat laporan atau masalah di kapal tersebut Flag state dan PSC berhak menahan kapal itu sampai semua masalah selesai.

isi dari MLC 2006 yg pelaut harus paham

Title 1: Minimum requirements for seafarers to work on a ship

  1. Maksudnya di sini min usia 16 tahun dan buat yg jaga malam dan bahaya harus berusia 18 tahun
  2. Kesehatan pelaut harus sehat sesuai STCW
  3. Pelatihan buat pelaut (termasuk BST training
  4. Perekrutan dan penempatan harus sesuai prosedur yg berlaku

Title 2: Employment conditions

  1. Kontrak kerja harus jelas
  2. Gaji harus di bayarkan
  3. Istirahat kerja harus di jalankan min. 14 jam tidak lebih, atau 72 jam dalam seminggu,  dan ada waktu istirahat 10 jam perhari atau 77 jam dalam seminggu
  4. Cuti tahunan
  5. ongkos pemulangan kenegara asal Gratis
  6. jika kapal hilang atau kandas mendapat gaji selama tidak kerja
  7. Keagean crew sesuai transdard biasa harus ada ISO
  8.  Promosi untuk pelaut tsb.

Title 3: Accommodation, Recreational Facilities, Food and Catering

  1. Akomodasi dan tempat tinggal harus baik dan sehat ada nya tempat rekreasi ruangan untuk istihat.
  2. Makanan minuman dan air minum  kualitas harus baik
  • Food and Catering: Both food quality and quantity, including water should be regulated in the flag state. Furthermore, cooks should have proper training.

Title 4: Health Protection, Medical Care, Welfare and Social Security Protection

  1. perawatan medis baik di kapal dan di darat sesuai standard
  2. Kewajiban pemilik kapal  atas sakit kecelakaan atau kematian , harus membayar ke pelaut  paling tidak 16 minggu harus di bayar.
  3. Perlindungan kesehatan  yg aman dan pencegahan kecelakaaan
  4. akses di darat untuk mendapatkan facilitas rekreasi dan pelayanan buat pelaut
  5. Jaminan sosial harus ada

Title 5: Compliance and Enforcement

  1. Flag state harus melakukan pemeriksaan untuk memastikan kapal menjalan Aturan dan prosedur
  2. PCS =port state control sam fungsi di atas. melakuakan memeriksaan
  3. Keagean crew kapal melakukan pemeriksaan terhadap crew dan dokumen sesuai convention sebelum di kirim

dari 5 point title di atas sangat jelas sekali MLC 2006 melindungi para pekerja di atas kapal baik keselamatan, kesejateraan, kenyaman di tempat kerja, pembayaran gaji, facilitas lainya yg harus di penuhi oleh pemilik kapal termasuk gaji yg sesuai standard international.

MLC 2006 juga tidak berlaku untuk kapal kapal yg hanya berlayar di perairan pedalaman , kapal kapal tradisional kapal ikan dan kapal perang. tapi semua aturan itu juga harus mengikuti aturan dari negara setempat untuk keselamatannya .

MLC 2006 berlaku untuk kapal berukuran 500 GT keatas. dan mereka yg memenuhi standard akan mendapatkan sertifikate MLC 2006.  sebagai saran untuk para pelaut jika anda merasa hak ahak anda terabaikan anda bisa melaporkan ini ke serikat pelaut. atau anda bisa memberi informasi ke Flag state dan PSC saat melakukan inspeksi di kapal. karena undang undang akan melindungi anda, karena tanpa anda lapor juga PCS akan melakukan pemeriksaan di kapal kapal yg masuk kenegaranya baik yg sudah di ratifikasi atau belum. karena itu sudah tugas dia.

banyak perusahaan melakukan permainan ganda, seperti contoh adanya 2 kontrak kerja yg berbeda di atas kapal. saat anda masuk ke suatu negara yg ketat dan memakai aturan main internasional . banyak perusahaan indonesia dulu membuat duplikat kontrak kerja yg berbeda demi melindungi perusahaan pelayaran dari saksi di negara lain. contonya australi yg IFT nya sangat kuat dan bisa membuat perusahaan pelayaran indonesia tidak berkutik jika tidak memenuhi standar international.

sebagai pelaut anda tidak perlu takut untuk melakukan complaint jika anda menemukan ketidak sesuaian di atas kapal. karena itu sudah termasuk non conformity jgn biarkan dan takut. di samping itu juga para operator pelabuhan  harus membantu pelaut dan melindunginya bukan kongkalikong dgn perusahan pelayaran.

Praktek dan kegiatan ini di indonesia masi berlangsung di indonesia dan untuk mengawasi ini semua di butuhkan kemauan para pelaut melaporakan. indonesia sudah meratifikasi MLC 2006 dan perintah indonesia wajib mejalan aturan tersebut.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016
TENTANG PENGESAHAN MARITIME LABOUR CONVENTION, 2006 (KONVENSI KETENAGAKERJAAN MARITIM, 2006)

Masi adanya perusahaan Nakal di indonesia harus kita lawan ,ini semua untuk kebaikan bersama baik perusahaan dan pekerja dalam hal ini pelaut. kerja di dunia industri maritim kita harus memakai aturan main sesuai konvensi international untuk mencapai kelayakan dan standarisasi kerja di atas kapal dgn baik. mejamin keselamatan, kesejateraan dan kenyamanan di tempat kerja.

dan semua ini bisa tercapai jika ada kerja sama di atara stake holder yg berkecimpung di indusrti maritime. terutama bagi mereka yg di lapangan

  1. shipping company
  2. ship Master
  3. Manning agent
  4. Flag state official
  5. Port state control inspector
  6. Crew.

Antara pelaut dan MLC 2006 terikat satu sama lain,  karena isi dari konvensi ini adalah aturan yg melindungi para pelut  sebagai object dari lahirnya MLC 2006 convention, Perangkat undang undang sudah ada, pemerintah indonesia sudah meratifikasi dan tinggal kita mau menjalan kan aturan ini dgn penu kesadaran tanpa mencari keuntungan di atas penderitaan para pelaut. demikian ulasan ini ku buat sekedar berbagi untuk kalian. khususnya para pelaut. salam hangat

Ridwan Garcia

Morroco 06 November 2019

Nov 7, 2019 - Posted by | ISM CODE, Solas 1974 | , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: