Info Kapal

Ridwan Garcia blog

Bila rasa bosan melandah rumah tangga

Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus Anda lalui untuk kemudian Anda menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari.

Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka setinggi apa pun prestasi, kebaikan atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya seistimewa apapun pasangan hidup Anda, pasti punya kekurangan. Akibatnya kebosanan-kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga.
Rumah tangga yang disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola ke-qowamannya dalam rumah tangga sehingga berimbas pada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami-istri berjalan sendiri-sendiri mengikuti idealisme masing-masing. Rasulullah SAW mewanti-wanti agar jika muncul rasa bosan atau jenuh, pelampiasan yang dipilih hendaknya tidak keluar dari kebenaran sebagaimana sabda beliau ini :
“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur (bosan). Barang siapa yang ketika futur tetap berpegang kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuj dan barangsiapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat” (Al-Bazaar)

Penyebab Munculnya Rasa Bosan
Rasa bosan dalam kehidupan rumah tangga berkaitan dengan faktor internal dan eksternal. Secara internal, rasa bosan seorang suami atau istri berkaitan dengan apresiasi dirinya terhadap kondisi rumah tangganya. Mungkin seorang suami melihat keadaan rumah yang tidak rapi setiap pulang kerja. Atau istri mendapati suami pulang kerja dengan setumpuk permasalahan kantor yang kemudian menjadi pekerjaan rumah. Tidak ada waktu untuk bercengkrama atau sekedar ngobrol sehingga rumah tangga rasanya seperti angin lalu, tanpa ruh. Atau suami mengingnkan istri siap jika dia memerlukan teman diskusi pekerjaan kantor. Di sisi lain suami tidak peduli pada pekerjaan rumah tangga istri yang tidak henti-hentinya. Artinya, di satu sisi suami atau istri mengharapkan pasangannya memahami namun di pihak lain tidak ada itikad yang memudahkan harapan itu bisa terealisasi.
Secara eksternal, sebab-sebab munculnya rasa bosan berasal dari hal-hal di luar diri. Mungkin memang sudah saatnya Anda mengubah posisi tempat tidur atau mengganti gorden kamar Anda. Mungkin saatnya juga Anda mengganti warna cat rumah dengan warna yang lebih segar. Anda juga mungkin sudah saatnya mencoba menu makanan baru atau mengganti penampilan di depan suami Anda.

Ada tiga hal yang diindikasikan menjadi penyebab munculnya rasa bosan untuk Anda kenali:

1. Anda melakukan kesalahan berulang-ulang. Bisa jadi istri memasak terlalu asin dan itu terjadi berulang kali untuk masakan kesukaan suami. Istri kembali memakai baju warna gelap yang tidak disukai suami. Atau suami selalu menyimpan baju-baju kotor di belakang pintu sehingga istri harus sering razia baju kotor. Dengan demikian Anda berdua sudah terperosok dua kali pada lubang yang sama. Akibatnya Anda berdua merasa bosan dengan keadaan yang terus berulang, sementara Anda berdua tidak menghendaki keadaan seperti itu terjadi.

2. Beban Anda memang berat dan tidak pernah henti. Mungkin istri aktivis kegiatan sosial atau bahkan bekerja sehingga ketika sampai di rumah ingin suasana yang sedikit santai untuk mengendorkan urat saraf, sementara suami datang dengan segudang permasalah kantor dan tuntutan pelayanan dari istri. Atau mungkin kondisi ekonomi rumah tangga kurang mencukupi sehingga suami dan istri harus sama-sama bekerja keras. Kendati begitu ternyata gaji berdua tidak cukup untuk membayar rekening-rekeining tagihan. Fisik lelah dan fikiran jenuh, akhirnya tidak ada waktu lagi untuk sekedar bermanis-manis dengan pasangan. Yang ada adalah ketegangan-ketegangan yang lama kelamaan menimbulkan kebosanan-kebosanan dalam menghadapi permasalahan hidup.

3. Idealisme Anda terlalu tinggi. Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi pada pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun ternyata suami Anda malah down. Anda mengharapkan istri Anda bisa berbisnis sepeerti istri-istri yang lain yang bisa menambah income bulanan dengan berbisnis busana muslim. Kenyatannya istri tidak berbakat dagang sehingga tidak balik modal. Akhirnya Anda patah arang, lalu malah tidak semangat lagi mengejar harapan itu. Akhirnya Anda pun bosan mengejar sesuatu yang memang tidak bisa ANda paksakan kepada pasangan Anda.

Kebosanan yang Melahirkan Kekuatan Baru
Tidak sedikit orang yang menjadikan kebosanan sebagai antiklimaks yang mengawali sikap atau perilaku buruk. Mereka berdalih mencari kompensasi rasa bosannya itu dengan mengerjakan hal-hal negatif dengan dalih untuk mencari suasan baru. Padahal jika disikapi dengan baik, kebosanan akan memunculkan kreativitas yang melahirkan kekuatan baru.

Berikut Tips-tips yang bisa Anda Simak :
a. Perbarui niat. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua menekan tombol pause untuk merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga sebagai ibadah. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga, Keikhlasan adalah sumber kekuatan jiwa dan fisik sehingga Anda akan kuat menjalani kondisi apapun dalam hidup.
b. Susunlah perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Akibatnya tenaga, pikiran, waktu dan dana tidak terpakai untuk hal-hal penting.
c. Pahami keutamaan-keutamaan amal. Allah akan memberikan ganjaran untuk pekerjaan yang dilakukan dengan dasar ikhlas dan benar. Lelahnya suami mencari nafkah dihitung sebagai fi sabiilillah. Peluh, kelelahan dan kesulitan dalam mencari nafkah akan memperoleh pahala besar. Pekerjaan istri mengurus rumah tangga dengan benar dan ikhlas akan mengantarkannya ke surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beramal shaleh.
d. Ajaklah pasangan Anda melakukan ibadah sunnah berdzikir, beribadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ketika kita diterpa kegelisahan dan rasa bosan adalah di antara kebiasaan yang dilakukan salafuushaleh. Allah akan menyertai orang-orang yang menjalankan amalan-amalan sunnah setelah menjalankan amalan-amalan wajib.
e. Bercerminlah pada orang lain. Anda berdua bisa bertanya kepada orang-orang tua atau yang lebih berpengalaman tentang kiat-kiat mereka mengatasi kelelahan atau kebosanan dalam menjalani cobaan-cobaan hidup. Uraian mereka akan memacu semangat Anda dalam mengatasi kebosanan.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Bila rasa bosan melandah rumah tangga

Rindu Ayah

Seraut wajah penuh gurat. Membuatku selalu teringat larik Ebiet G Ade,

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meskipun nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

What should I say about him?
Sedari kecil, aku tak terlalu dekat dengannya. Lumrah mungkin, karena seorang anak memang biasanya lebih dekat dengan ibunya. Sosok wanita yang senantiasa hadir di rumah, membimbing anak-anaknya.

Aku tak terlalu dekat dengannya. Sosok itu selalu pergi pagi pulang sore. Setiap beliau tiba, selalu kucari, adakah ia membawa bingkisan bagiku? Dan ibuku senantiasa menyuruhku menyiapkan makan baginya. Sebuah permintaan yang selalu kupenuhi sembari enggan menggelayuti jasad. Sebuah sikap yang selalu kusesali hingga saat ini.
Sosok itupun jarang berbicara. Selalu kulihat ia bekerja dalam diam. Ah, satu sifat yang lewat kuteladani. Ya, ayah adalah sosok yang serba bisa menurutku. Dan jelas dambaan wanita masa kini. Karena beliau tidak pernah segan melakukan pekerjaan wanita, tanpa melalaikan amanahnya sebagai ayah. Bahkan kadang kupikir, di beberapa sisi beliau lebih jago dari ibuku. Beliau bisa menjahit dengan rapi dan sangat teliti. Membuatkan ciput untuk kakak perempuanku, sebagai orang pertama yang memakai kerudung di keluargaku. Memasak dengan sangat bersih dan apik. Membuat sendiri beberapa perkakas dapur dari kayu. Membersihkan halaman dan menggunting rumput. Pernah suatu kali, seorang sales mengira beliau adalah tukang kebun! Jadilah rumahku selamat dari serbuan sales.

Benar, ayah adalah pekerja yang sangat teliti. Kadang aku dan juga kakak-kakakku sering gemas … “Ayo dong Yah, cepetan dikit! Atau kita aja deh yang ngerjain”. Tapi proses yang ‘lambat’ itulah yang mewujudkan hasil mengesankan.

Mengecat ayunan taman bersama. Pergi ke pasar dengan pakaian lusuh. Beli sepeda, lalu kita kayuh bergantian. Menemaniku ke toko buku. Membelikanku gula-gula harum manis yang besar, karena saat itu aku malu memegangnya. Memboncengku di sepeda ‘unta’. Menghadirkan bola basket saat aku memang sedang kepingin-kepinginnya. Mewariskan kepadaku beberapa buku sastra masih dengan ejaan lama. Berkolaborasi dengan ibuku, menjahitkan seprei berenda untuk Idul Fitri.

Satu lagi dari ayahku adalah, beliau tidak pernah mengeluh. Sungguh! Sosok itu memang jarang tersenyum. Beberapa temanku mengaku takut melihat ayahku. Wah, mereka belum tau saja bila isengnya kumat, ayahku bisa meniru sosok ibu via telpon, dan sudah beberapa teman yang tertipu!

Perpaduan sinergis jarang tersenyum dengan tiada keluhan sedikit pun dari lisannya. Bahkan saat beliau sakit dan harus dirawat di rumah sakit -pertama dan hanya sekali dalam seumur hidupnya-, hingga sosok tegar itu menemui Izrail di sana. Akibat sakit yang menyerang hatinya. Akibat akumulasi zat-zat toksik ketika dulu beliau bekerja di pabrik belasan tahun lamanya. Sedikitpun tak pernah kudengar keluhan keluar dari lisannya. Padahal sering beliau tidak melalui malam dengan mata terpejam, karena sakit memerih di hatinya. Bahkan beliau menolak keinginanku untuk menemaninya di rumah sakit hanya karena khawatir mengganggu sekolahku.

Satu ketika seorang sahabat bercerita kepada saya, kakunya ia membangun komunikasi dengan ayahnya. Aku hanya bisa terdiam miris. Menyembunyikan basah di mataku. Duhai sahabat, segeralah bangun komunikasi dengannya. Sebelum maut mewujudkan jarak antaranya.

Mengenang ayahku, selalu kuingat tanggal itu, 31 Agustus 1995. Paska kepulangannya dari Baitullah. Ternyata beliau pun harus berpulang pada Dzat yang selalu kita nantikan pertemuan dengan-Nya. Kamis mendung mendesak awan. Tubuhnya telah terbalut kain putih. Menyisakan seraut wajah bergurat. Tatkala wajahnya dipalingkan menghadap kanan. Dan gundukan tanah merah basah menindihnya, menghalangi kami sedikit demi sedikit … menjarakkan kami kian jauh …

Rabbi,
Lapangkanlah kuburnya.
Terangilah ia dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Datangkanlah sosok tampan di hadapannya, sebagai wujud amal kebaikan beliau selama ini.
Kutitipkan ia pada-Mu Ya Allah …

Rabbi,
Rahmatilah hamba sebagai anak shaleh, agar mampu mendoakan kedua orang tua hamba.
Sampaikan kepadanya, larik yang belum sempat kuverbalkan di hadapannya, bahwa Aku mencintainya.

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangatmu tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Rindu Ayah. Sungguh.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | 2 Comments

Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Perempuan itu berjalan mengitari kebun kecilnya, kehamilannya menua membuat langkahnya tertatih. Maha benar Allah saat manusia di perintahkan menghormati ibunya. “Ibumu mengandungmu sembilan bulan dengan kepayahan yang bertambah-tambah”.
Sejenak ia berhenti dan mengehembuskan nafasnya, ditatanya lagi pot-pot kecil. Dia tersenyum sambil berkacak pinggang. Hhhfff…Benih akan bertumbuh menjadi pohon, berbunga dan berbuah. Memberi manfaat.

“Nak, kau dengar kan? Gemericik air yang kusiramkan di tanah berisi benih tadi?”
“..itulah kau sayang. Aku membentukmu sejak disini” . Dielusnya perut buncitnya, kemudian dibiarkannya semua letih berseteru membentuk pegal yang menyemut di kakinya. Ayunan didepan ‘padepokan kecil belakang rumah’ menjadi tempatnya bersantai. Allah memberikan pahala padamu wahai perempuan, surga! Dan kau mudah meraihnya dengan kesabaran.Sebagai istri terlebih sebagai ibu.

“Nak, kau ingin aku memperdengarkanmu apa? Sederet musik klasik yang katanya mencerdaskanmu? Sebentar, Nak… ada yang akan membentukmu lebih cerdas dan kau takkan bosan”
Diambilnya mushaf al-qur’an kecil dari dasternya lalu lantunannya membuat sang janin 8,5 bulan itu bergerak-gerak menyambut fitrahnya saat ruh ditiupkan padanya sejak empat bulan yang lalu. Perjanjian dengan Allah : “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu Mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan-mu? Mereka menjawab, “betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”…..(QS.Al-A’raaf:172)
“Kau tahu nak, aku telah persiapkan pot-pot kecil berisi tanah dan benih serta sepetak kebun disana. Aku menyebutnya laboratorium mini untukmu”
“Kelak kau akan belajar dari tanah, bagaimana dia menumbuhkan dan menerima. Kau akan belajar dari kesabarannya. Menerima apapun namun menumbuhkan apa yang baik dengan izin Allah”
“Kau akan belajar , nak. Dan aku akan membimbingmu. Bukan aku sendiri, Nak. Tapi ayahmu juga. Dia memberimu keteguhan pula” perempuan itu tersenyum. Pendar merah muda di kedua pipinya menyiratkan satu rasa bernama: bahagia.

Ah, mengapa banyak perempuan enggan merasakan apa yang kurasakan sampai hari ini? Berdiskusi kecil dengan calon khalifah Allah di bumi? Satu dari sekian banyak generasi baru yang Allah ciptakan? Nak, aku mencintaimu.Sungguh.Karena Penciptamu menyuruhku begitu.
Matahari berpendar kemerahan di ufuk barat. Senja menampakkan merahnya. Siang ikhlas tergantikan perannya. Setelah kesibukan manusia diambang batas waktu. ‘Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal ‘(QS. Ali-Imran:190)
Perempuan itu memenuhi perannya yang lain. Berbakti pada satu makhluk yang dipasangkan untuknya oleh Sang Khalik dalam satu fase kehidupannya di bumi. Laki-laki itu membimbingnya takzim. Penghormatan yang layak diberikan pada seorang makhluk yang diciptakan oleh Rabb-nya untuk menjadi perhiasan terbaik. Keteguhannya menjadikan semai cinta makin menjadi. Cinta karena Allah begitu mereka sering menyebutnya. Berbalut romatisme perjuangan. Keduanya khusyuk dalam dialog-dialog dengan Sang Raja Manusia. Rabb… jadikanlah aku dan dzuriyahku mendirikan Sholat…

Sejoli manusia itu larut dalam perenungan-perenungan tentang diri dan semesta. Serambi belakang seumpama sepetak taman surga dunia, menumbuhkan cinta menyemaikan harap yang bermuara pada satu : gerbang surga hakiki. Perempuan itu memainkan manik-manik tasbih, Sang lelaki melantunkan lagi nada-nada syahdu mengiringi firman-firman ilahi. Perempuan itu tersenyum memandang langit.
“Nak, dengar, kali ini ayahmu melantunkan nada kasih untukmu”
“Nak, di bumi ibumu ini, waktu bernama malam telah menyapa. Mungkin kau gelap disana, sayang. Tapi kegelapan itu menempatkamu pada fitrah yang agung” nafas perempuan itu naik turun teratur. Efek psikologis dari sebuah keadaan bernama: bahagia. Sang calon bayi menyambutnya,menandak-nandak seolah mengatakan ,”Aku dengar, Bunda! Aku dengar!” laki-laki itu tersenyum ,senyum teduh sang calon ayah.
“Nak, kelak kau akan melihat langit yang luas, bintang-bintang dan rembulan dimalam hari dan matahari di siangnya.” Bisik perempuan itu lagi, masih memainkan tasbihnya.
“Kau akan belajar sayang, dari semuanya. Sebab, Tuhan menyuruh kita begitu.”
“kau akan belajar bagaimana matahari yang selalu ikhlas memancarkan sinarnya. Istiqomah menjalankan tugasnya, bahkan saat malam, bulan meminjam sinarnya untuk menerangi langit”

“… Kau kuharap juga menjadi bintang, sayang. Yang memiliki cahayanya sendiri meski ia nampak kecil di mata manusia. Namun dia bintang, bukan bulan yang hanya meminjam cahaya matahari.Sesuatu yang memiliki cahayanya sendiri akan tetap ada dan ‘hidup’ meski tak selalu nampak besar”
“…..Namun kau tak boleh cukup menjadi bintang yang sendiri. Sebab, kau akan terjebak keangkuhan dan tak cukup memberi arti”
“Nah…. Lihat nak! Itu rasi bintang. Kelak bunda akan tunjukkan padamu. Banyak macam namanya. Gugusan bintang itu memberi pedoman pada makhluk di bumi. Pada nelayan, pada petani, pada pelaut. Manusia tidak bisa sendirian mengubah dunia, sayang. Dia harus menjadi bintang-bintang yang membentuk rasi. Manusia harus bergandengan tangan dengan orang lain. Agar cahayanya, kelebihan dan kekurangannya berpadu saling mengisi sehingga makhluk dibumi akan mengambil manfaat dan menjadikan mereka pemandu. Cahaya itulah hidayah dari Allah, sayang. Yang kau bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya sejak disini”perempuan itu mengelus perutnya. Kali ini dia tak lagi hanya berbisik, namun ia menuliskan semua gumamnya.Pena dan kertas adalah teman sejarah. Sang lelaki tersenyum. Aku makin mencintaimu.

Bunda aku mencintaimu, sungguh! sebab di rahimmu aku tumbuh menjadi calon bintang yang akan membentuk rasi bersama bintang-bintang lain sebayaku. Janin itu menandak-nandak lalu tenang.
Bunda…. Bilakah aku melihat wajahmu? Kubayangkan kau seteguh bunga mawar yang kita siram pagi tadi. Maukah kau ceritakan padaku tentang bunga mawar bunda? Pasti kau akan bercerita Bunda, sebagai satu mata ajar di sekolah peradaban kita
Satu bulan sepuluh hari kemudian
Selamat datang putri, tangismu menandai bahwa sekolah peradaban untukmu telah resmi dibuka. Perempuan itu menangis.Tangis bahagia. Tuhannya memberinya kesempatan untuk menjadi guru di salah satu ruang sekolah peradaban:di rumahnya. Keajaiban itu berupa : perpindahan satu fase kehidupan dari alam ruh ke alam rahim kemudian ke dunia. Oh, Rabbi…. Semoga aku sanggup membimbingnya.
Laki-laki itu terpana. Wahai, aku tak pernah bisa membayangkan sakit yang kau rasakan, pejuang Kehidupan! Bukankah ini bukti bahwa perempuan lebih perkasa dari laki-laki dengan kesabarannya? Bukankah ini bukan sebuah kelemahan namun kelemahlembutan yang menumbuhkan ketegaran? Rabbi… pantas jika surga ada dibawah telapak kaki seorang ibu. Aku menghormatimu lebih dari sebelumnya, Ibu baru!
Enam tahun kemudian
Bersyukurlah karena Allah masih memelihara sekolah peradaban bagi manusia: alam semesta. Dan rumah kita sebagai salah satu ruang kelasnya. Tangan-tangan mungil itu memainkan sekop kecil. Tertawa-tawa kecil mengeluarkan gumam-gumam khas bocah. Perempuan disampingnya tersenyum .Biarkan saja dia berlumur tanah sebab dari itu dia tercipta. Biarkan saja tangan-tangan kecil itu meraba, merasakan setiap tekstur tanah dan semua alat peraga alami yang tampak didepan matanya.
Bukankah pergesekan kulit nya yang lembut dengan tanah dan semesta akan memberinya pelajaran baru? Biar saja. Jika ingin kehidupan ramah padanya, maka jangan ciptakan permusuhan dengan alam semesta meskipun hanya sepercik rasa takut. Sebab jiwa murni itu sangat peka. Kotoran di gamisku bisa dibersihkan, namun bekas kemarahanmu dihatinya sulit dihilangkan. Begitu kira-kira kanjeng Rasul Muhammad mengajarkan kita bagaimana bersikap lembut walau’hanya’ pada seorang bayi.*

Indera diciptakan untuk merasa, melihat, membau, mendengar,mengecap. Alam semesta adalah sekolah kita. Biarkan dia mengerti bahwa tubuhnya adalah pelajaran tak terperi. Suatu hari dia akan merasa dirinya adalah bentukan terbaik.
Mulailah percakapan dua generasi memulai pelajaran hari ini: kehidupan.
“Mengapa Bunda mengubur biji itu dengan tanah?” gadis kecil bertanya. Hmmm… kosakatanya yang kaya hasil dari kecerewetan perempuan disampingnya.
“ha…ha.. ini me- na-nam, Sayang, bukan mengubur”
“Me-na-nam ? Untuk apa?”
“Agar dia tumbuh”
“Tapi biji itu tertutup tanah, Bunda”
“Iya, nak… tapi dia hidup..” Gadis enam tahun! Kuperkenalkan kau pada penciptamu. Bertanyalah Sayang sebab telah kubiasakan kau sejak janin.
“Hidup? Dengan apa?”
“dengan air yang kita siramkan tadi, dengan pupuk,dengan udara”
“ Kau tau sayang?dahulu kamu pun ditanam begini” perempuan itu membentuk mimik selucu mungkin.
“ha..ha…ha….” gadis kecil itu tergelak.
“Aku, Bunda? He..he… dimana?”
“Hmmm… disini” perempuan itu menunjuk perutnya
Gadis itu melongo heran. Mungkin batinnya sedang menerka bagaimana mungkin dia yang sebesar ini. ‘di-ta-nam’ di perut ibunya???
“Bunda-aaa! Nggak mungkin!Nggak cukup!”
“Kau dahulu sebesar benih ini nak, sayang” dijumputnya biji bunga matahari.
“Kau di tanam Allah di perut Bunda”
“Allah? Yang setiap hari kita berdo’a pada-Nya” perempuan itu mengangguk.Oh… ananda. Benarlah kau lupa bahwa kau pernah bersaksi bahwa Dia Tuhanmu. Kau harus tetap ingat, nak dengan perjanjian Agung itu. Aku miris dengan sebayamu yang mungkin tak pernah lagi dikenalkan pada Allah-nya saat dia lahir ke dunia
tiap-tiap anak lahir dalam keadaan suci (fitrahnya). Orang tuanya yang membentuknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi
“hiii… pasti gelap ,ya, Bunda?”
“Iya… tapi kau tetap hidup, kan sayang? Menjadi anak Bunda yang pandai” perempuan itu memandangnya penuh cinta
“i..ya…. kok bisa, ya Bunda?” gadis itu mengikut ibunya, mengaduk-aduk tanah, menyemai benih-benih bunga. Tangan kecilnya bergerak semampu dia bisa.
“Karena Allah mencintaimu, sayang. Dia memberimu makanan melalui bunda, dia menitipkan mu pada Bunda dan Ayah, untuk merawatmu”

“ya! Ya! Seperti kita memberi pupuk dan air pada benih ini”
“Anak pintar!”
“Benih ini akan tumbuh sepertiku, kan Bunda?”
“Iya, sayang !menjadi bunga yang cantik. Kau akan senang melihatnya kelak seperti juga Bunda senang melihatmu tumbuh”
“mmm….. “ sang gadis kecil mencoba mengerti.
“kau akan senang melihat benih itu tumbuh perlahan-lahan setiap hari. Karena kau merawatnya dengan baik. Allah menitipkannya pada kita”
“Tapi Allah tidak menyiraminya,kan bunda?!” Oh, gadisku aku harus menjawab apa lagi?
“Hmm…Memang. Tapi Allah yang memberi kehidupan untuk benih itu, untukmu, untuk Bunda untuk semua yang ada di alam”
“Bunda…. Akan merawatku juga? Seperti kita merawat bunga ini, iya kan Bunda?” Perempuan itu mengangguk, dibasuhnya tangannya, dibimbingnya gadis kecil itu membersihkan dirinya. Cukup untuk hari ini , Sayang. Pelajaran kita tentang kehidupan. Kelak kau akan semakin tahu banyak hal. Ini hanya permulaan.
Perempuan itu…. semoga aku! Setahun, dua tahun, tiga tahun atau beberapa tahun lagi jika Allah menghendakiku dan memandangku pantas menjadi salah satu pendidik di sekolah peradaban-Nya: Alam semesta ; disalah satu ruang kelasnya;rumah tanggaku! Dimana setiap sudutnya adalah serpihan-serpihan ilmu dan hamparan pengetahuan untuk mencintai-Nya. Dimana akan kukenalkan generasi-generasi dari rahimku tentang mencintai Rabb-nya, dimana disekolah peradaban itu….lulusannya tidak sekedar mendapat selembar kertas bertuliskan ;lulus! Sebab Alam semesta menjanjikan proses belajar yang tak henti. Selamat datang di sekolah peradaban kita: Alam semesta, langit dan bumi yang hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.Wallahu a’lam bish-shawwab

*) seorang bayi ‘pipis’ di gendongan Rasulullah Muhammad SAW kemudian ibunya segera ‘merebutnya ‘ karena rasa hormatnya pada Rasulullah. Kemudian rasulullah berkata yang kurang lebih seperti di atas.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Makna Sebutir Perhatian

Makna Sebutir Perhatian

Tumbuhnya rasa cinta relatif mudah. Yang sulit adalah merawat agar cinta dan kasih sayang kita terus membara. Itulah yang terjadi dalam perjalanan rumah tangga. Biduk kapal yang diawali dengan cinta terkadang harus kandas akibat cinta dan kasih sayang antara suami istri menguap. Entah kemana.
Sepotong pengalaman diceritakan oleh sang pelaut , sebut saja begitu :

Malam sudah sangat larut. Sayup-sayup desing kendaraan masih tetap terdengar. Namun tetap saja sepi memeluk sekujur rumah itu.sang pelaut beranjak dari pembaringan. Ia memutuskan untuk membasuh wajahnya dan tahajud. Pria yang sehari-hari berlayar berbulan bulan di atas kapal yg besar ini berpikir mudah-mudahan qiyamulalilnya malam ini bisa membuat dirinya lebih tenang.

Ternyata benar. Basuhan air wudlu dan bertemunya kening dengan sajadah membikin hati dan perasaanya lebih tenang. “Alhamdulillah, setelah tahajud ada ketenangan. Bak segayung air menyirami tanah yang tandus,” ceritanya kepada sahabat. Padahal, jangka masa tiga setengah jam sebelumnya, hati dan pikirannya sarat gelisah dan gundah gulana. Matanya pun kering mengusir kantuk.

Betapa tidak, malam itu ia bertengkar keras dengan istrinya. Sang istri protes dengan tingkah suaminya yang, dianggapnya, sudah tidak memperhatikannya lagi. Sebagai seorang pelaut dari sebuah perusahaan baru, sang suami terbilang lama pulangnya hingga tahun jika berlayar. Berangkat hari thn ini tinggalkan rumah pulang tahun akan datang. Dan, kalaupun pulang, energinya sudah habis terkuras. Sebentar saja pelaut dapat cuti waktu yg baik terbuang menurut sang istri tak ada gairah seperti masa berpacaran dulu, istrinya meresa seperti sebatang kayu hanya pajangan semata.saat sang pelaut Tidur. “Malam itu, si istri menyiramkan segelas air ke wajahnya. Praktis, amarahnya muntah kepada si istri. Di marahi dan bentak si istri, eh, dia malah bicara keras. Selanjutnya, bisa ditebak. Mereka bertengkar hebat,” paparnya penuh rasa sesal.

“Ketegangan demi ketegangan dalam sebuah rumah tangga, sebenarnya, hal yang lazim,” komentar Ust Yusuf Mansur ‘ustad yg sedang kodang saat ini yg selalu memberikan kuliah subuh dan siraman rohani di telivisi. ketua Pembina yayasan pesantren darul quran di tanggerang cipondo“Yang terpenting adalah bagaimana kedua pasangan baik suami maupun istri menyikapi ini secara positif dan rasional. Jangan emosional,” tambahnya.

Selain itu hendaknya ada satu pihak yang mengalah ketika pertengkaran terjadi. “Cobalah sang suami bersabar sedikit menanggapi istri yang sedang marah-marah. Atau, sebaliknya. Anggap saja sedang main sinetron dan jangan diambil hati,” saran ustad
Hal ini dibenarkan si pelaut. Malam kejadian itu, mungkin karena saking lelahnya, ia emosional dan meladeni istrinya. “sang pelaut mengaku salah, malam itu saya langsung bentak dia tanpa bertanya dulu. Bisa saja, perilakunya itu hanya reaksi dari tindakan saya sendiri,” imbuhsi pelaut.

Pun begitu, pak ustad tidak menyarankan untuk membiarkan sang istri atau sang suami marah-marah begitu saja. Bukan berarti dicuekin. Apalagi, asik saja menonton TV. Itu malah membuat sang pasangan sakit hati. “Jangan banyak bicara, lakukan saja. Cobalah dekap erat istri atau suami anda. Buatlah ia tenang dan nyaman berada dipelukan anda. Baru setelah tenang dikomunikasikan dan cari jalan keluar. Jangan pernah bosan membuat kesepakatan baru yang penting keduanya senang sama senang.” Kerjasama dalam Keluarga
Dalam pandangan Herlini Amran MA, pemerhati masalah-masalah wanita, sesudah pernikahan berlangsung, kehidupan berumah tangga pun harus dijalani dengan sebaik-baiknya meskipun tantangan dan godaan menjalani kehidupan rumah tangga sangat banyak.

Di sebuah kesempatan Diskusi Panel bertajuk, “Membangun Keluarga Islami” , Herlini mengajukan lima syarat agar yang kita cita-citakan bersama seperti memperkokoh Rasa Cinta dan Kasih Sayang, Saling Hormat Menghormati, Saling Menutupi Kekurangan, Kerjasama dalam Keluarga dan memfungsikan keluarga lebih berkehutanan.
Cinta, menurut Herlini merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan rumah tangga, bila rasa cinta suami istri hilang, maka kehancuran rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu suasana cinta mencintai harus saling ditumbuhsuburkan atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal kehidupan rumahtangga, tapi juga pada masa-masa selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan menemui kematian.

Rasulullah SAW sebagai seorang suami berhasil membagi dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan isteri yang lainnya.
Dalam konteks merawat dan menyuburkan kembali cinta suami istri inilah perlu variasi dan teknik khusus. Coba sesekali buat kejutan. Bangun lebih awal, lalu buatkan teh manis di campur segenggam cinta dan kasih sayang. Bangunkan sang istri untuk shalat subuh dan berikan Teh manis bikinan sang kekasih. Dijamin, ia akan bangun dengan girang bukan alang kepalang.
Atau, pulang tidak seperti biasanya. Berikan sang istri kejutan dengan kehadiran anda lebih awal. Carilah kerja dengan kontrak yg tak terlalu lama, sudah banyak peusahan pelayaran yg menerapkan system internasional jika pun terpaksa lakukan komunikasi yg rutin agar tetap terjaga hubungan yg mesra. Jadi pada perinsipnya komunikasi adalah jembatan yg mengeratkan hubungan keluarga dan saat waktunya tiba cuti anda Sembari pulang jangan lupa beli coklat atau makanan kesukaan sang istri. Tiak mesti terlalu mahal yang penting tulus. Perhatian kecil yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu menumbuhkan rasa cinta.

Sep 11, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | 1 Comment

HARMONISKAN KELUARGA DGN JOKE

Antara suka dan tidak suka , biarbagaimanapun kita harus menjalani. kehidupan pelaut yah memang seperti itu jauh dari keluarga tapi bukan alasan kita tidak bisa memanfaatkan waktu kita saat cuti bersama keluaga tercinta.

Marilah berkaca. Cobalah putar kembali ‘film’ satu hari kita kemarin. Inventarisirlah beberapa momen yang bisa memuat perasaan Anda senang dan memicu tawa. Tawa dalam semua definisi seperti cuma tersenyum simpul, tertawa pelan, atau tertawa keras dan terbahak-bahak.
Contohnya mungkin antara lain Anda mendengarkan musik, membaca, menyaksikan film komedi, melihat tayangan-tayangan komedi televisi, bertemu dan berbicara dengan seseorang yang punya sense of humor bagus, mendengar celetukan seseorang, mengingat masa-masa ‘lucu dan lugu’ kala SMA dan lain sebagainya. Setiap individu pasti memiliki ragam dan kekhasan sendiri. Buktikanlah, betapa momen-momen itu mampu mendongkrak hormon bahagia dan menyejukan semua rasa. Ujung-ujungnya suasana positif ini dapat memproduksi energi kreatif untuk berkarya. Atau, paling tidak bisa memberikan yang terbaik untuk lingkungan. Sebab, kebahagiaan hanya dapat diberikan oleh orang yang bahagia.
Begitulah fungsi humor dalam proses kimiawi dan psikologis tubuh kita. “Humor kecil sehari-hari seperti vitamin ampuh untuk membangun dan mempertahankan kemampuan Anda secara positif menanggapi tugas-tugas
keayahbundaan dan tantangan hidup lainnya,” tulis Maurice J. Elias Ph. D dkk dalam bukunya Emotionally intelligent Parenting: How to Rise a Self-Disiplined, Responsible, Socially Skilled Child.
Sayangnya, Maurice mencatat betapa banyak orangtua yang ‘lupa’ terhadap khasiat dari humor dalam peningkatan hubungan dengan pasangan maupun dengan anak-anak. Katanya, “Perhatikan berapa banyak waktu yang Anda pakai untuk melakukan hal ini dalam sehari atau seminggu. Barangkali Anda akan menemukan bahwa waktu yang Anda habiskan untuk itu lebih sedikit daripada yang Anda kira.”
Apa yang disinyalir Maurice dibenarkan Deny Setiawan(32), eksekutif sebuah perusahaan asing. Dalam kesehariannya, tak cuma kurang namun ia memang cenderung menyepelekan soal ini. “Waktu saya memang terlalu sempit untuk sekadar bersenda gurau. Jadi, bukan sekadar kurang tapi lebih dari itu, saya memang tak pernah meniatkan meluangkan waktu hanya untuk itu. Bagi saya, itu tidak profesional. Just wasted my time,” akunya jujur.
Humor Mendongkrak Keharmonisan
Seusai memberikan ceramah dalam pengajian di sebuah perkantoran, ust. Ferry Nur, Koordinator Gerakan Anti Zionis (GAZA), memberikan pernyataan yang cukup‘menyengat’ kepada salah seorang anggota pengajian yang berniat menikah, “Ente kalau menikah tidak boleh dengan orang sekampung.” Sontak jamaah yang lain pun bereaksi. Mereka berpikir, orang sekaliber Ust Ferry tentu bicara berdasarkan argumen syar’i. “Lho, masak sih seperti itu,” ujar salah seorang jamaah. Dengan sigap ustad muda energik yang telah dianugerahi 9 orang anak ini segera memberikan penjelasan. “Memang benar, menikah dengan ‘orang sekampung’ itu terlalu banyak. Nggak dibenarkan syariah,” tukasnya sembari menebar senyum. Jamaah pun kontan tertawa.
Pengalaman Adam Hermawan (29) beda lagi. Bagi Ayah tiga anak yang tinggal di Depok ini, humor juga dijadikan alat atau media untuk mencairkan suasana dan menyegarkan kondisi keharmonisan rumah tangga. Caranya bisa bermacam-macam. “Paling tidak, sepulang kerja saya membawa oleh-oleh, bisa berupa kejadian lucu di kantor atau cerita-cerita,” katanya.
Adam lumayan unik. Pasalnya, ia menyengajakan diri mencari sesuatu yang bisa membuat istri dan anaknya tertawa, minimal, kalau yang dibawa pulang tidak lucu, bisa membuat tersenyum. Sampai-sampai, ia menyisakan waktu dalam kesibukan kerjanya untuk browsing (berselancar di dunia maya) mencari cerita-cerita unik dan lucu. Ujarnya, “Ini saya lakukan sengaja. Karena saya merasakan manfaat yang cukup besar.”
Menyisipkan humor dalam hubungan dengan pasangan dan k-anak, menurut Maurice, dimaksudkan untuk menjaga gar kita tetap dalam kerangka berpikir optimis. “Cobalah melakukan hal-hal yang bisa membawa Anda ke dalam suasana humor setiap hari, meskipun hanya sebentar. Kalau tidak bisa setiap hari, coba sesering yang bisa Anda lakukan,” pesannya dalam buku yang telah dialih bahasakan berjudul Cara-cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ.
Ia menyarankan untuk mencatat tiga kejadian hari ini yang membuat Anda merasa senang. Bisa saja hal-hal kecil: sinar matahari, melihat seekor kupu-kupu, mendapatkan pujian, menjadi tim pemenang dan lain sebagainya. Manfaat lain dari cara ini, memungkinkan setiap orang untuk saling berbagi dan meninjau ulang.Saat seseorang sedang seih, inilah tempat untuk mencari hiburan. Ini berarti juga, kita bisa menebarkan kebahagiaan ke lingkungan kita, bukan cuma keluhan, kritikan dan penderitaan kita. walau waktu kita terbatas di rumah inti kita masi bisa berbuat yg terbaik buat di rumah. (Sept. 2009 sultanate of Oman)

Sep 8, 2009 Posted by | RENUNGAN HATI | | Comments Off on HARMONISKAN KELUARGA DGN JOKE

Anakku

Anakku, Di awal perjalanan waktumu, di ujung lintasan hayatku, ingin kusampaikan kepadamu beberapa patah kata yang kuharapkan dapat menjadi azimat yang memberikan warna indah bagi hidupmu yang penuh keceriaan. Senang hatiku karena engkau selalu memperhatikan kata-kataku. Hal itu membuatku semakin bergairah untuk bercerita kepadamu tentang
mutiara-mutiara kehidupan yang berhasil kukumpulkan disepanjang perjalananku. Kali ini izinkanlah aku bertutur tentang arti sahabat dan
persahabatan. Anakku, tidak ada seekor burungpun yang dapat terbang jauh apabila ia terbang sendirian. Begitu juga tak seorangpun dapat mencapai tujuan-tujuan besar dalam hidupnya apabila ia mencoba mencapainya seorang diri, atau apabila ia tidak mempunyai sahabat-sahabat disekelilingnya. Seorang sahabat adalah seseorang yang dengannya engkau berani menjadi
dirimu sendiri, yang dengannya engkau berani berkata : “Inilah Aku” ! Sungguh seorang sahabat adalah bagian penting dari hidupmu. Orang bijak mengatakan bahwa seorang sahabat adalah dorongan ketika engkau berhenti, sepatah kata ketika engkau kesepian, petunjuk jalan ketika engkau
tersesat, senyuman sabar ketika engkau berduka, juga lagu gembira ketika engkau
merasa bahagia. Bahkan seorang sahabat adalah seseorang yang menghentikanmu ketika engkau meluncur jatuh. Seorang sahabat adalah orang yang siap mendengar ketika engkau ingin mengatakan sesuatu, seorang yang peduli dengan
masalahmu , dan juga tempat engkau berbagi rasa ! Tentu senang hatiku jika engkau mempunyai banyak sahabat, Anakku. Tapi
yang paling kusukai dari dirimu adalah bahwa engkau senantiasa berusaha menjadikan dirimu sahabat bagi orang lain. Tahukah engkau anakku, begitu terharunya aku ketika masa kecilmu banyak kau isi dengan menjadikan dirimu sahabat bagi anak-anak disebelah rumah kita, serta sahabat bagi binatang-binatang peliharaan kita ? Waktu itu aku
merasa bahagia sekali karena engkau dapatkan dan kau nikmati kedamaian dan kebahagiaan bersama sahabat-sahabatmu ! Meskipun begitu, sahabatmu yang terpenting adalah dia yang menghendaki Kebaikan dan Kebahagiaan bagimu, dimana Kebaikan adalah Kebenaran yang
kita fahami dengan sejelas-jelasnya, dan Kebahagiaan Sejati adalah rasa senang yang dibangkitkan oleh hasrat yang tinggi pada Kebenaran. Dialah yang menghendaki Keselamatan bagimu di dunia dan di akhirat kelak, Anakku. Maka jadikanlah dirimu sahabat terpenting, kalau mungkin bagi setiap orang ! Telah kulihat kebijakanmu sejak masa kecilmu Nak. Tentu tak sulit bagimu untuk memahami kata-kataku. Dan mengenai arti Persahabatan, Anakku, aku hanya ingin mengatakan bahwa Persahabatan adalah intan-berlian yang tak ternilai harganya. Tak dapat dijual, tak dapat dibeli, dan juga tak mungkin dipinjamkan, karena didalamnya terkandung kehendak untuk saling menghormati, saling mencintai, dan saling memberi !
Sekarang marilah kujelaskan hal yang lebih mendalam. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Swt. berfirman bahwa Dia adalah Sahabat bagi manusia yang berdzikir kepada-Nya. Berdzikir kepada Allah Swt. adalah senantiasa mengingat kepada-Nya dimanapun engkau berada, senantiasa kau basahi lidahmu dengan mengucapkan Nama-Nama-Nya yang Agung, melaksanakan semua kewajiban dan perbuatan baikmu karena Allah semata, kau hindari perbuatan yang dilarang-Nya karena Allah, dan kau sadari benar bahwa Dia selalu mengawasimu. Jika kau lakukan semua ini, maka suatu saat akan kau rasakan di dalam hatimu, cinta yang semakin besar kepada-Nya, dan rasa cinta ini akan berwujud Kehendak yang kuat untuk mendapatkan ikatan yang kekal dengan Dia yang Maha Hidup. Maka bila kau menjadi sedemikian bersungguh-sungguh
dengan tekadmu, akan kau rasakan kelak bahwa Dia membalas cintamu. Akan diperlihatkan kepadamu keajaiban-keajaiban dari cinta-Nya. Pada saat itu, pada saat cintamu mendapat respon yang baik dari-Nya, maka engkau akan berkembang sedemikian rupa sehingga sampailah engkau pada suatu keadaan dimana engkau bukan saja melakukan suatu
pekerjaan “karena Allah” ( li-Llah ) tapi juga “dengan Allah” ( bi-Llah ) ! Hanya engkau sendirilah yang akan memahami keadaan itu, tak ada yang perlu
engkau kuatirkan dan tak perlu lagi kau bersedih hati jika Allah Swt. telah mengangkatmu kederajat itu. Capailah keadaan itu, Nak ! Itulah yang tertinggi yang dapat dicapai oleh hamba-hamba-Nya. Itulah Kebahagiaan Sejati ! Dan tak akan pernah kau capai keadaan itu kecuali Allah Swt. menghendakinya. Maka berdo’alah selalu, Anakku, berdo’alah selalu, kemudian perkuatlah kesabaranmu. Sesungguhnya akan kau sadari kelak bahwa kita semua sangat bergantung kepada Allah Swt. Masih segar dalam ingatanku, tangisanmu yang nyaring ketika engkau hadir di dunia ini. Masih segar dalam pandanganku bagaimana kau repotkan ibumu
dengan rasa hausmu akan kasih sayangnya. Aduhai Anakku, tahukah engkau betapa
besar cinta kami kepadamu ? Sengaja kami pilihkan sebuah nama yang indah bagimu, Nak. Semoga indah pula masa depanmu !! Berbahagialah dengan apa yang ada pada dirimu, Nak ! Apa yang dianugerahi Allah Swt. kepadamu adalah apa yang terbaik bagimu ! Bersyukurlah dengan semua nikmat yang telah Ia berikan kepadamu, dan bersabarlah dengan ujian yang datang dari-Nya. Sesungguhnya Allah Swt.
tidak menghendaki keburukan bagi kita. Sesungguhnya Ia Maha Bijaksana. Jadikanlah dirimu manusia yang berguna, agar tidak sia-sia Allah menciptakanmu. Bersungguh-sungguhlah dalam menempuh perjalanan hidupmu, karena dengan penuh kesungguhan pula Ia telah menciptakanmu. Milikilah sebuah cita-cita yang luhur dan mulia karena ia merupakan penggerak jiwa yang luar biasa, tonikum yang menyegarkan seluruh sel-sel tubuhmu, serta pembakar semangat yang tak habis-habisnya ! Dan, dengan senantiasa memohon pertolongan-Nya, raihlah tujuan hidupmu dengan cara terhormat ! Sesungguhnya manusia yang tidak mempunyai tujuan dalam hidupnya adalah manusia yang juga tidak mempunyai masa depan, dan manusia yang menghalalkan segala cara untuk meraih harapan-harapannya
adalah manusia yang menabung derita. Ingatlah selalu bahwa Allah Swt. adalah Yang Terbaik untuk dicintai ( The Best to Love ). Bila kau dapatkan cinta-Nya maka telah kau miliki segala-galanya, karena Dia-lah Yang Maha Kaya. Sebaliknya mereka yang kehilangan cinta-Nya adalah orang-orang yang telah kehilangan segala-galanya. Berjuanglah dengan sepenuh hati. Jangan biarkan keragu-raguan menggerogoti akal dan jiwamu. Akhirnya, jadikanlah saat pertemuanmu dengan-Nya kelak, dengan Sahabat
Yang Maha Tinggi, adalah saat terindah dalam hidupmu !! Baiklah anakku, kucukupkan suratku sampai di sini, dengan harapan semoga engkau semakin arif, semakin bijaksana, dan semoga Allah Yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang mencintaimu selalu….!
Yang selalu berdo’a untukmu,

Sep 8, 2009 Posted by | RENUNGAN HATI | | Comments Off on Anakku

Hormati Hak Anak Anda kan Tersenyum di Hari Tua

Hormati Hak Anak Anda kan Tersenyum di Hari Tua

Siapa bilang anak tak punya hak dalam keluarga? Bahkan seorang balita pun tetap memiliki hak-hak yang wajib dihormati oleh kedua orangtuanya. Orang tua seringkali menganggap anak tak banyak memiliki hak selain apa yang sudah ditetapkan dan menjadi kebiasaan. Misalnya ASI (air susu ibu), ini merupakan salah satu hak anak yang bahkan ditetapkan oleh Allah bersamaan dengan ketentuan kelahiran si anak. Ayat dalam Al Qur’an yang menggambarkan perjuangan seorang ibu mengandung sembilan bulan lamanya, menyatu dengan perjuangan menyusui hingga 2 tahun. Artinya, perjuangan seorang ibu tak selesai seiring usainya masa persalinan, melainkan terus hingga anak-anak yang sesungguhnya amanah Allah itu besar dan sudah sanggup membedakan mana yang benar dan salah untuk jalannya kemudian.
Banyak hak anak yang selama ini tidak diakui para orang tua, misalnya saja untuk berpendapat. “Huss, anak kecil tahu apa…” “Anak kemarin sore, sudah pintar ngomong macam-macam” adalah contoh dari sekian banyak penafian hak anak dalam keluarga. Sebagai individu dan bagian dari sebuah keluarga, jika
seorang anak sudah bisa berpikir dan mengeluarkan pendapat terhadap satu hal, selayaknya orang tua mau mendengarkan mereka. Sikap orangtua yang tak mau dan tak pernah memberikan kesempatan anak untuk berpendapat, apalagi melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, adalah sikap otoriter yang bisa mengekang sehingga memungkinkan tumbuhnya benih-benih pembangkangan anak terhadap orang tua.
Selama ini kita hanya mengenal beberapa hak anak seperti mendapatkan nama yang baik, memperoleh kasih sayang, pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang baik, bahkan untuk anak perempuan, juga berhak untuk dipilihkan jodoh yang baik oleh orangtuanya. Itupun satu atau beberapa dari hak-hak tersebut masih sering terabaikan (diabaikan?) para orangtua yang salah kaprah memandang bentuk kasih sayang dan perhatian, juga salah memilihkan sarana pendidikan. Terlepas ada sebagian orangtua yang ‘terpaksa’ menyekolahkan anak mereka terkait soal ekonomi, tapi tak bisa disangkal jika banyak orangtua yang lebih mengutamakan pendidikan formal tanpa menganggap penting pendidikan agamanya. Betapa banyak kita mendengar orang tua yang teramat bangga terhadap kefasihan sang anak ber-cuap-cuap dengan bahasa asing, atau kemahirannya mengoperasikan komputer. Tapi disaat yang sama, mereka tenang dan tak merasa sedih anaknya tak mengerti baca tulis Al Qur’an.
Sudahkah menjadi orang tua yang baik?
Perkembangan teknologi, pesatnya arus informasi yang terus meningkat per detik, semakin membuat banyak orangtua tak berdaya melakukan filterisasi buat anak-anak mereka. Karena pada saat yang sama, orangtua-orangtua juga teramat kewalahan oleh padatnya acara dan kepentingan usaha, paling tidak oleh kesibukan mencari nafkah. Seorang ayah misalnya, sering beranggapan tugas utamanya adalah mencari nafkah dan mencukupi semua kebutuhan keluarga, termasuk anak-anak. Soal pendidikan, ibunyalah yang menjadi tumpuan. Lalu bagaimana dengan anak-anak ‘malang’ yang kedua orangtuanya sibuk bekerja? Guru di sekolah menjadi harapannya sebagai pengganti orangtua. Di rumah? Otomatis anak lebih banyak ‘dididik’ oleh Babysitter dan pembantu rumah tangga.
Saat ini banyak berkembang model pendidikan plus yang menawarkan pendidikan ekstra dan berbagai macam janji plus-plus dengan harga yang juga wah plus-nya. Buat orang mereka yang berduit, mungkin bukan masalah berapapun biaya yang diminta agar anak mereka mendapatkan pendidikan terbaik. Tentu menjadi masalah tersendiri bagi orang tak punya, anak-anaknya harus mendapatkan sekolah dibawah standar dengan guru-guru yang juga pas-pasan. Kenapa harus saya katakan seperti ini? Karena guru-guru profesional dengan skill yang tinggi biasanya sudah dikontrak habis oleh sekolah-sekolah plus. Dan sisanya, mereka yang tidak terjaring ke kelompok guru profesional itulah yang ada di sekolah-sekolah standar. Yang menyedihkan, konsentrasi guru-guru itu masih harus terpecah oleh pikiran tentang biaya hidup yang tak bisa dipenuhi oleh gaji mereka yang jauh dibawah standar, bahkan tidak manusiawi, mengingat jasa guru yang melahirkan generasi-generasi bangsa berkualitas.
Terlepas dari mampu tidaknya orangtua menyekolahkan anak-anak di lembaga pendidikan bermutu, yang terpenting disadari adalah bahwa waktu mereka di sekolah hanya beberapa jam saja, dan sisanya dari 24 jam itu lebih banyak di rumah. Artinya, sebagus apapun sekolah tempat anak-anak itu ditempatkan, tetap saja peran orangtua harus lebih dimaksimalkan. Pertanyaannya? Siapkah para orangtua itu menjadi guru sebenarnya bagi anak-anak mereka? Sudahkah mempersiapkan diri dan meningkatkan kualitasnya selaku orangtua?
Para orangtua harus menyadari, bahwa mereka tak bisa mengandalkan dan berharap banyak terhadap lembaga-lembaga pendidikan berkualitas, karena orangtua adalah guru terbaik buat anak-anaknya. Sebelum bercita-cita menjadikan anak mereka menjadi anak shalih, sudahkah keshalihan itu tercermin dalam sikap dan keseharian orangtua? Sebelum menginginkan anak-anak mengerti dan mentaati kewajibannya sebagai anak kepada orangtua, sudahkah orangtua memenuhi kewajibannya memenuhi hak anak-anak?
Anak-anak butuh figur, dan itu hak mereka terhadap orangtuanya. Kasih sayang orangtua juga tak bisa tergantikan oleh materi yang berlimpah, apalagi oleh seorang babysitter atau pembantu rumah tangga. Tentu Anda para orangtua tak pernah berkeinginan dititipkan ke panti jompo oleh anak-anak Anda kelak, Anda juga tak pernah berharap anak-anak tak menghormati, tak menghargai dan acuh terhadap perintah dan nasihat Anda, sebagai balasan Anda tak pernah memberikan kesempatan mereka untuk berpendapat. Padahal kita mengerti, salah satu kebutuhan dasar manusia adalah didengarkan, dan anak tentu juga memiliki kebutuhan itu. Pernahkah Anda bermimpi anak-anak Anda rajin beribadah dan senantiasa mendo’akan Anda, baik disaat hidup maupun nanti Anda sudah tak lagi mendampingi mereka? Tentu Anda tahu apa yang harus dilakukan saat ini terhadap anak-anak sebelum mereka tumbuh menjadi manusia yang bukan Anda cita-citakan. Yakinlah, jika semua hak anak sudah anda penuhi, Anda boleh tersenyum di hari tua dan berbisik bangga, “Anak sukses itu, akulah orangtuanya”. Wallaahu ‘a’lam bishsowaab. (Bayu Gautama)
Dipublikasikan tanggal

Sep 7, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Hormati Hak Anak Anda kan Tersenyum di Hari Tua

Agar Gaji Nggak Cepat Habis

Agar Gaji Nggak Cepat HabisBerangan-angan menjadi orang yang ‘banyak duit’ merupakan impian semuaorang. Dengan uang segalanya dapat anda peroleh, rumah, mobil, perhiasan, dan sebagainya. Tentu saja untuk mendapatkan uang yang banyak kita harus bekerja keras. Dan tentunya anda tidak ingin penghasilan yang anda peroleh dari kerja keras itu habis begitu saja bukan?Nah agar penghasilan anda tidak sia-sia dan anda dapat menjadi orang’berkantong tebal’, coba deh cara berikut ini:Setiap kali habis menerima gaji, jangan langsung pergi ke pusat perbelanjaan seperti Mal. Pulanglah ke rumah dan buat daftar pengeluaran kebutuhan anda, seperti kebutuhan rumah tangga,
pendidikan anak-anak, kesehatan, dll. Kemudian catat setiap kali anda mengeluarkan uang. Dengan demikian anda akan mengetahui kemana saja ‘larinya’ uang anda.Usahakan setiap kali membeli peralatan rumah tangga, pilihlah yang berkualitas bagus namun dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sehingga, anda tidak perlu sering-sering mengeluarkan biaya untuk ‘servis’.Belanja kebutuhan sehari-hari sekaligus untuk persediaan sebulan mungkin akan lebih menghemat pengeluaran anda. Karena membeli dalam jumlah banyak jatuhnya akan lebih murah daripada membeli eceran. Lagi pula anda tidak perlu bolak-balik membeli karena kehabisan gula, susu, atau kopi. Sehingga hal ini akan menghemat ongkos transport belanja.Jangan mengalokasikan uang anda untuk hal-hal yang bersifat kesenanganbelaka. Seberapun kecilnya gaji anda, biasakan untuk selalu menabung. Kalau bisa setiap bulan sisihkan 10% dari gaji anda ke dalam tabungan. Pilihlah Bank dengan reputasi baik dengan bunga yang lumayan.Pilihlah rumah makan yang murah meriah, setiap kali anda makan siang. Jangan makan di restoran mahal yang akan menyedot isi kocek anda. Kalau perlu bawalah bekal makanan dari rumah. Selain irit juga higienis kan?Jangan hanya menabung! dari gaji. Setiap kali anda mendapat bonus, THR, atau insentif, sisihkan untuk ditabung walaupun sedikit.Selain tabungan, kalau memungkinkan investasikan uang anda ke dalam bentuk saham, obligasi atau deposito sejumlah tabungan yang anda sisihkan untuk jangka panjang.Mengikuti arisan yang diadakan kantor atau lingkungan rumah bisa juga anda pilih sebagai alternatif ‘menyelamatkan’ uang anda.Kalau anda masih bingung ‘menyisihkan’ penghasilan anda yang tidak banyak, mintalah bantuan orang lain yang handal dan anda percaya dalam mengelola uang.Dengan melakukan hal tersebut, jangan takut dianggap ‘pelit’. Toh andabukanlah pelit melainkan hemat. Karena siapa lagi yang akan menyelematkan uang yang anda peroleh dengan susah payah, kalau bukan anda sendiri? Lagipula hal ini akan sangat bermanfaat bagi hidup anda kelak.

Sep 7, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | 2 Comments

Isteriku Tetap Yang Paling Cantik

Isteriku Tetap Yang Paling Cantik
Pukul 4.05, alert di hpku membangunkan. Ia ikut bangun. Padahal, aku tahu baru pukul 23.30, ia bisa tidur setelah berjibaku dengan kerjanya, kerja rumah tangga, urusan dua anakku, dan mengurusi aku sebagai suami. Belum lagi, pukul 01.15 terbangun untuk sebuah interupsi.Ups, rupanya ia lupa menyetrika baju kantorku. Aku mandi, shalat lail dan shalat subuh. ia selesai pula menyelesaikan itu. Plus, satu stel pakaian kerjaku telah siap.
Aku siap berangkat. Ah, ada yang tertinggal rupanya. AKu lupa memandangi wajahnya pagi ini. “Nda, kamu cantik sekali hari ini,” kataku memuji.
Ia tersenyum. “Bang tebak sudah berapa lama kita menikah?” Aku tergagap sebentar. Melongo. Lho, koq nanya itu. hatiku membatin. Aku berhenti sebentar dan menghitung sudah berapa lama kami bersama. Karena, perasaanku baru kemarin aku datang ke rumahnya bersama ust. Bambang untuk meminangnya.”Lho, baru kemarin aku datang untuk meminta kamu jadi istriku dan aku nyatakan ‘aku terima nikahnya Herlinda Novita Rahayu binti Didi Sugardhi’ dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai.” Kataku cuek sembari mengaduk kopi hangat rasa cinta dan perhatian darinya.Ia tertawa. Wuih, manis sekali. Mungkin, bila kopi yang aku sruput tak perlu gula. Cukuplah pandangi wajahnya. “Kita sudah delapan tahun Bang.” Katanya memberikan tas kerjaku.
“Aku berangkat yah, assalamualaikum,” kataku bergeming dari kalimat terakhir yang ia ajukan.
Aku buru-buru. “Hati-hati yah dijalan.” Sejatinya, aku ingin ngobrol terus. sayang, KRL tak bisa menunggu dan pukul 7.00 aku harus sudah stand by di ruang studio sebuah stasiun radio di Jakarta.
Aku di jalan bersama sejumlah perasaan. Ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar kata Dewa, separuh nafasku hilang saat kau tidak bersamaku. kembali wajahnya menguntit seperti hantu. Hm, cantiknya istriku. Sayang, waktu tidak berpihak kepadaku untuk lebih lama menikmatinya.
Sekilas, menyelinap dedaunan kehidupan delapan tahun lalu. Ketika tarbiyah menyentuh dan menanamkan ke hati sebuah tekad untuk menyempurnakan Dien. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Bahwa rezeki akan datang walau tak selembar pun kerja kugeluti saat itu. Bahwa tak masalah menerapkan prinsip 3K (Kuliah, Kerja, Kawin).Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana yang saat itu sedang kukejar. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.
Dan, ternyata benar. Kuliahnya dan kuliahku bernasib serupa. Berantakan. Waktuku habis tersita untuk mengais lembar demi lembar rezeki yang halal. Sementara ia harus merelakan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri untuk si Abang, anakku.
Kehidupan harus terus berjalan. Kutarik segepok udara untuk mengisi paru-paruku. Kurasakan syukur mendalam. Walau tanpa kerja dan orang tua mapan, ‘kapal’ku terus berlabuh. Bahkan, kini sudah mengarung lebih stabil dibanding dua dan tiga tahun pertama.
Ternyata, memang benar Allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku.
Namun, aku tahu wajah cantik istri ku mungkin akan memudar dengan segala kesibukan, mempersiapkan makanan untuk si Abang dan Ade yang mau berangkat sekolah, mempersiapkan tugas-tugas untuk pekerjaanya, belum lagi mengurusi tetek bengek rumah tangga. Kelelahan seolah menggeser kecantikan dan kesegarannya. Untunglah, saat aku pulang, ia bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan.Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu. Namun, doa dan ridhaku selalu bersamamu.
Sayangku,kumohon dekat di sinitemani jasadku yang belum matiAku melayang

Sep 6, 2009 Posted by | arsip lama, RENUNGAN HATI | | Comments Off on Isteriku Tetap Yang Paling Cantik